<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wayan sudane</title>
	<atom:link href="http://wayansudane.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wayansudane.net</link>
	<description>merangkai kata mencari makna...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2010 09:16:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sinergi untuk Negeri</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 09:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Dewan Pimpinan Nasional Peradah Indonesia terus melakukan berbagai upaya menuju tata kelola organisasi yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sinergi dengan berbagai pihak sebagaimana dicanangkan dalam program umum organisasi. Semangat inilah yang melandasi pelaksanaan Rapat Kerja Nasional VIII Peradah Indonesia yang akan di selenggarakan 06 – 08 Agustus mendatang di Palembang, Sumatera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="http://mediahindu.net/images/stories/FotoArtikel/rekernas%20peradah%20vii.jpg" src="http://mediahindu.net/images/stories/FotoArtikel/rekernas%20peradah%20vii.jpg" alt="" width="151" height="106" />Dewan Pimpinan Nasional Peradah  Indonesia terus melakukan berbagai upaya menuju tata kelola organisasi  yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sinergi  dengan berbagai pihak sebagaimana dicanangkan dalam program umum  organisasi.</p>
<p>Semangat inilah yang melandasi pelaksanaan Rapat  Kerja Nasional VIII Peradah Indonesia yang akan di selenggarakan 06 – 08  Agustus mendatang di Palembang, Sumatera Selatan. Semangat dalam  pelaksanaan Rakernas tersebut telah diterjemahkan dalam sebuah simbol  yang menjadi logo panitia Rakernas VIII Peradah Indonesia.<br />
<span id="more-166"></span><br />
<strong>Filosofi ‘Sinergi untuk Negeri’</strong></p>
<p>Peradah  Indonesia berpandangan bahwa untuk bisa bersinergi, pihak-pihak yang  memiliki perspektif beragam perlu dijembatani. Dengan demikian setiap  kegiatan yang dilakukan bisa berjalan selaras walaupun bergerak di ranah  yang berbeda-beda. “Adanya sinergi dapat mencapai tujuan akhir yang  sama,” tandas Gede Ananta Wijaya, sang kreator yang menuangkannya ke  dalam logo kepanitiaan.</p>
<p>Image jembatan yang digunakan adalah  Jembatan Ampera yang melintasi sungai Musi di Sumatera Selatan. Hal ini  juga menggambarkan ikon daerah di mana Rakernas akan diselenggarakan.</p>
<p>Sedangkan  empat tiang melambangkan Catur Yoga antara lain; Bhakti Yoga, Karma  Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga. Empat tiang tersebut mewakili empat  jalan/ranah aktifitas Peradah Indonesia dalam memajukan Pemuda Hindu  Indonesia.</p>
<p>Secara keseluruhan filosofi ini menggambarkan  pelayanan (sevanam) yang dilakukan kader-kader Peradah Indonesia dalam  menjalankan dharma agama dan dharma negara. ”Jembatan tak kenal  diskiriminasi, ia berbaring dan semuanya lewat,” jelas Putu Sukma  Hendrawan, Desainer yang membantu Ananta Wijaya.</p>
<p><strong>Kemandirian  Pemuda</strong><br />
Sebagai organisasi pemuda tingkat nasional,  Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) sudah seharusnya  mengelola organisasi secara profesional. Tata kelola organisasi dengan  mengedepankan prinsip-prinsip good governance menjadi sebuah ukuran  sederhana dari kemajuan dan kemapanan organisasi.</p>
<p>Untuk mencapai  tata kelola yang baik, Peradah Indonesia melakukan berbagai program yang  diinternalisasikan melalui berbagai kegiatan nyata di masyarakat.  Berbagai program dan road map organisasi dirumuskan melalui perencanaan  yang baik dalam forum yang melibatkan seluruh stakeholder Peradah  Indonesia.</p>
<p>Untuk mewujudkan hal tersebut, Rakernas VIII Peradah  Indonesia mengangkat tema kemandirian, yaitu “Sinergi untuk Negeri;  Gerakan Nasional Membangun kemandirian Pemuda.” Menurut Komang Adi  Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia, nilai dan semangat kegiatan ini  adalah mewujudkan langkah penting sebagai awal suatu perjalanan sakral  menuju kebesaran negeri. “Peradah Indonesia memiliki keyakinan bahwa  sinergi segenap anak bangsa akan mampu memberikan kontribusi dalam  membangun kemandirian bangsa,” jelasnya.<!-- JOM COMMENT START --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8221;Green Tourism&#8221; adalah Pilihan</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 06:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[TAJUK RENCANA &#8211; Bali Post 17 Juni 2010 SEJATINYA, wacana green tourism atau yang dulu dikenal dengan ekowisata atau wisata yang berbasis lingkungan sudah terdengar gemanya sejak era awal 1990-an. Namun sejatinya pula, persoalan ini tumbuh dan berkembang sejak benih pariwisata itu tumbuh di Bali. Bukan lagi pada tataran konsep, namun sudah pada tahapan implementasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TAJUK RENCANA &#8211; <a href="http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&amp;kid=3&amp;id=3872" target="_blank">Bali Post</a> 17 Juni 2010</p>
<p>SEJATINYA, wacana green tourism atau yang dulu dikenal dengan ekowisata  atau wisata yang berbasis lingkungan sudah terdengar gemanya sejak era  awal 1990-an. Namun sejatinya pula, persoalan ini tumbuh dan berkembang  sejak benih pariwisata itu tumbuh di Bali. Bukan lagi pada tataran  konsep, namun sudah pada tahapan implementasi. Malah sudah jauh lebih  mendasar bahwa sebenarnya pariwisata di Bali yang ada saat ini adalah  pariwisata kerakyatan atau pariwisata yang berbasiskan masyarakat  (community based tourism).</p>
<p>Jauh sudah mengakar ketika para pakar sudah mulai memikirkan dan  kemudian bersuara lantang soal pariwisata kerakyatan serta green  tourism. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana saja. Kembali pada  filosofi manusia Bali itu sendiri yang mementingkan tiga hubungan  keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan  manusia (pawongan) serta manusia dengan lingkungan alam sekitarnya  (palemahan). Inilah yang dinamakan Tri Hita Karana, tiga penyebab  kebahagiaan.<span id="more-157"></span></p>
<p>Pada mulanya, pembangunan di Bali tidak hanya pariwisata didasarkan atas  ketiga hal mendasar ini. Namun pergeseran budaya akibat berbagai  kepentingan dan semakin &#8221;majunya&#8221; masyarakat Bali, kemudian muncul  sikap-sikap permisif yang makin menjauhkan dirinya dari konsep local  genius masyarakat Bali itu sendiri.</p>
<p>Yang mungkin menjadi tanda tanya besar adalah pemakaian terminologi  &#8221;menjauhkan&#8221; itu sendiri. Apakah benar masyarakat Bali menjauhkan diri  atau justru dijauhkan oleh kerangka dasar pemikiran adiluhung itu  sendiri? Jawabannya tentu sangat bisa diperdebatkan. Namun, menilik  fakta serta data yang ada saat ini, barangkali ada semacam pergulatan  kepentingan di dalamnya. Pertemalian kepentingan antara sebagian  masyarakat Bali sendiri dengan kepentingan pusat. Akhirnya, bisa  dikerucutkan dengan makin menguatnya kepentingan ekonomi, sehingga  fondasi Tri Hita Karana itu makin dikeroposkan. Ibarat jaring, sengaja  dibuat lubang-lubang agar ikan-ikan dengan sangat leluasa keluar-masuk.</p>
<p>Celakanya, persekongkolan ini tidak hanya terjadi di tataran oknum  birokrat tetapi juga sudah merambah oknum perangkat adat. Apa yang  terjadi kemudian? Sudah bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, bahwa  beginilah Bali sekarang. Pulau yang kecil ini sangat sarat dengan  masalah-masalah sosial, alam serta budaya. Tidak usah disebut, kita dan  para wisatawan sendiri, yang benar-benar peduli tentang Bali sangat  merasakan perubahan mendasar ini.</p>
<p>Ekowisata sebenarnya sebuah pilihan yang bisa dikawankan dengan iktikad,  komitmen serta integritas masyarakat Bali serta manusia Bali secara  luas. Namun dalam konteks ini, tidak berlebihan kalau kita mengharapkan  pengambil kebijakan bisa secara tegas menghasilkan keputusan mengikat  untuk kepentingan Bali ke depan. Begitu juga masyarakat Bali itu  sendiri. Jangan lagi terjebak oleh kepentingan sesaat sehingga  sebenarnya hanya ibarat menggali kuburan sendiri.</p>
<p>Pada awal 1990-an pun muncul dua kutub wacana yakni antara quality  tourism atau mass tourism. Yang menang siapa? Bisa kita lihat sekarang.  Tidak usah ada analisis njelimet. Kita lihat saja faktanya sekarang.  Banyak fasilitas pariwisata dibangun, banyak kabupaten berlomba-lomba  membangun hotel, restoran dan sebagainya. Tetapi hasil kongkretnya untuk  kesejahteraan masyarakat mana?</p>
<p>Saat ini saja, usulan membangun bandara baru, hotel baru, jalan layang  baru tidak pernah pudar. Ujung-ujungnya hanya melihat uang. Namun,  pernahkah dipikirkan dampaknya kelak. Mungkin pernah, tetapi si  perancang ini mungkin berpikir bahwa saat bencana itu terjadi maka dia  toh sudah mati.</p>
<p>Maka, mari kita ingat lagi petitih usang ini. Bali yang kita terima saat  ini, bukan untuk kita miliki, bukan pula untuk kita rusak. Bali ini  hanya titipan nenek moyang, untuk para anak-cucu kita kelak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembentukan Peradah Indonesia Kepulauan Riau</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 09:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Bunga di sawah jangan dilukai, Karena sawah tempat menuai padi, Pemuda Peradah yang kami cintai, Marilah bersama membangun tanah Kepri. Itulah pantun yang dilantunkan Ketua Peradah Indonesia Kepulauan Riau (Kepri)   I Wayan Mesra Ariyawan saat pelantikan Pengurus DPP Peradah Indonesia Kepri akhir Mei lalu (28/5) di Wantilan Pura Agung Amertha Buana, Batam. * Dewan Pimpinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px;" title="http://farm5.static.flickr.com/4119/4884299491_af374e6f89_s.jpg" src="http://farm5.static.flickr.com/4119/4884299491_af374e6f89_s.jpg" alt="" width="75" height="75" />Bunga di sawah jangan dilukai,<br />
Karena sawah tempat menuai padi,<br />
Pemuda Peradah yang kami cintai,<br />
Marilah bersama membangun tanah Kepri.</em></p>
<p>Itulah pantun yang dilantunkan Ketua Peradah Indonesia Kepulauan Riau (Kepri)   I Wayan Mesra Ariyawan saat pelantikan Pengurus DPP Peradah Indonesia Kepri akhir Mei lalu (28/5) di Wantilan Pura Agung Amertha Buana, Batam.<br />
*</p>
<p>Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradah Indonesia terus melakukan program-program untuk menghidupkan sel-sel Peradah Indonesia pada setiap tingkatan hingga kabupaten. Salah satunya adalah membentuk Peradah Indonesia di provinsi yang belum memiliki kepengurusan Peradah Indonesia. <span id="more-161"></span></p>
<p>Program ini mendapat sambutan yang baik dari para pemuda Kepri. Dibawah arahan tokoh umat Kepri Wayan Catra Yasa, para pemuda Kepri telah melaksanakan sidang formatur yang melahirkan struktur dan kepengurusan Peradah Indonesia Kepri.</p>
<p>Menurut Wayan Mesra Ariyawan Ketua Peradah Indonesia Kepri terpilih, keberadaan Peradah Indonesia Kepri merupakan kesempatan untuk melakukan pelayanan yang lebih luas untuk memajukan provinsi Kepri.  “Hal ini sejalan dengan visi, misi dan tujuan Peradah Indonesia,” jelasnya.</p>
<p>Hadir dalam acara pelantikan kepengurusan antara lain Walikota Batam, Gubernur Kepri, Otorita Batam, Pembimas Hindu Kepri, Parisada Kepri, WHDI Kepri, dan undangan serta tokoh umat Hindu di Kepri. Sedangkan dari DPN hadir Komang Adi Setiawan, IK Guna Artha, Wayan Sudane, Abhisek Kumar, Astri Anggraeni, dan Ketua Peradah Indonesia Sumatera Utara Indra Gunawan, didampangi Kawida.</p>
<p>Dalam sambutannya, Walikota Batam yang diwakili Assisten Ekonomi dan Pembangunan, Syamsul Bahrum menyambut baik dibentuknya Peradah Indonesia. Terlebih Kepri sebagai daerah strategis yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan oleh para pemuda.</p>
<p>Sedangkan Komang Adi Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia berharap dengan dibentuknya Peradah Indonesia Kepri akan memudahkan jalinan komunikasi dan kerjasama di kawasan ASEAN. “Kepri akan menjadi penghubung dalam melakukan kerjasama luar negeri dengan negara terdekat seperti Malaysia dan Singapore,” jelasnya.</p>
<p>Dalam rangkaian acara pelantikan tersebut dilakukan juga aksi penanaman pohon sebagai wujud Peradah Go Green, yang merupakan bentuk kepedulian Peradah Indonesia terhadap isu lingkungan yang sedang berkembang seperti climate change dan global warming. Setelah pelantikan dan penanaman pohon di area Pura, acara dilanjutkan dengan pembekalan kepada pengurus yang berisi pemantapan dan arahan terhadap program-program yang harus dilakukan.</p>
<p><strong>Meeting SEA HYC &#8211; Singapore</strong><br />
Setelah acara pelantikan, keesokan harinya (29/5) dimanfaatkan untuk berkunjung ke kantor The Hindu Centre Singapore dalam rangka koordinasi dan pemantapan South East Asia Hindu Youth Council (SEA HYC) yang mengambil tempat di Singapore. Acara ini dihadiri oleh rombongan DPN Peradah Indonesia, DPP Peradah Indonesia Sumatera Utara, dan DPP Peradah Indonesia Kepri, President SEA HYC KS Arsana, Secretary General SEA HYC sekaligus President Malaysian Hindu Youth Council (MHYC) K Rasa Selvan.</p>
<p>M Gurunathan President The Hindu Centre Singapore menyambut baik kunjungan SEA HYC, Peradah Indonesia, dan MHYC sebagai bentuk kerjasama yang harus diperkuat lagi setelah  terjadi kevakuman selama ini. Dalam kesempatan itu, pihak The Hindu Centre Singapore menyampaikan program-program terkait dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan The Hindu Centre Singapore.</p>
<p>Diskusi cukup hangat, pasalnya banyak kegiatan-kegiatan yang bisa disinkronkan. Bahkan untuk menindaklanjuti program-program yang dilakukan The Hindu Centre Singapore, Wayan Catra Yasa berharap kedepan dapat dilakukan pertukaran/ sharing anak-anak pasraman Batam dan The Hindu Centre Singapore.</p>
<p>Pembicaraan yang berlangsung selanjutnya adalah mengenai SEA HYC, serta penjelasan General Asembly yang telah dilaksanakan pada tanggal 23 &#8211; 25 April 2010 di Port Dickson, Malaysia. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan malam dan ramah tamah.<br />
# Majalah Raditya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinergi Peradah Indonesia di Kawasan ASEAN</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 11:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 23-25 April 2010, telah sukses diselenggarakan ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) General Assembly (Kongres). Acara ini berlangsung di Hotel Seri Malaysia Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Jarak Port Dickson dari Kuala Lumpur sekitar 150 Km. Port Dickson terkenal sebagai area pariwisata utama di Malaysia dengan pantainya yang cukup indah. AHYC General Assembly kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 23-25 April 2010, telah sukses diselenggarakan ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) <em>General Assembly</em> (Kongres). Acara ini berlangsung di Hotel Seri Malaysia Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Jarak Port Dickson dari Kuala Lumpur sekitar 150 Km. Port Dickson terkenal sebagai area pariwisata utama di Malaysia dengan pantainya yang cukup indah.</p>
<p>AHYC General Assembly kali ini begitu spesial dan bersejarah. Setelah vakum selama 13 (tiga belas) tahun, revitalisasi terhadap organisasi yang dibentuk berdasarkan Deklarasi Prambanan pada tanggal 21 November 1993 berhasil dilaksanakan.</p>
<p>Para peserta terdiri dari para aktivis Peradah Indonesia, dan Malaysian Hindu Youth Council. Ajang ini juga menjadi reuni para pendiri ASEAN Hindu Youth Council. Dari Indonesia hadir Sylvia Ratnawanti Purwanto, pendiri sekaligus mantan Ketua Umum Peradah ke-2, Prof. Nyoman Nurjaya, mantan presiden AHYC ke-1. Dari Malaysia hadir Dato Sithambaram, mantan presiden AHYC ke-2. <span id="more-145"></span></p>
<p>Singapore selaku pendiri AHYC yang representasinya adalah The Hindu Centre of Singapore dalam kongres ini tidak bisa hadir karena dalam waktu yang bersamaan melaksanakan conference di Singapore. Sebagai dukungan, Mr. Marimutu Gurunathan mengirimkan <em>message</em> untuk acara ini dan mendukung terselenggaranya <em>General Assembly.</em></p>
<p>Setelah mengalami kevakuman selama 13 tahun, AHYC General Assembly  kali ini berhasil melahirkan beberapa keputusan, antara lain:</p>
<ol>
<li>Nama ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) berubah menjadi <strong>South East Asia Hindu Youth Council (SEA HYC)</strong>. Pertimbangannya adalah ASEAN bukanlah menunjukkan area geografis seperti ASIA. ASEAN adalah sebuah asosiasi. Perubahan ini disetujui oleh seluruh peserta kongres termasuk para pendiri.</li>
</ol>
<ol>
<li>Struktur organisasi berubah. Fungsi kontrol organisasi anggota SEA HYC diperkuat dengan adanya fungsi Board of Committe. Executive Commitee bertanggung jawab dalam General Assembly  kepada Board of Commitee. Fungsi ini diadakan untuk mencegah adanya kevakuman organisasi SEA HYC.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengurus SEA HYC selama tiga tahun kedepan memiliki tugas utama untuk merevitalisasi organisasi. Menghidupkan <em>network</em> pemuda Hindu seluruh South East Asia. Pengurus untuk tiga tahun kedepan adalah yang memiliki pengalaman dan mengerti sejarah SEA HYC serta siap melakukan regenerasi.</li>
</ol>
<p>Dalam <em>General Assembly</em> ini, diputuskan secara musyawarah untuk memilih KS Arsana (mantan Ketua Umum Peradah 2003 &#8211; 2006) sebagai <em>President</em> SEA HYC dan K Rasa Selvan (<em>President </em>Malaysian Hindu Youth Council) menjadi <em>Secretary General</em>.</p>
<p>Menurut Komang Adi Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia, SEA HYC merupakan organisasi yang strategis di kawasan ASEAN. &#8221; &#8220;SEA HYC adalah jembatan bagi pemuda Hindu Nusantara untuk menjelajahi pergaulan Internasional,&#8221; jelasnya disela-sela pertemuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lokasabha Peradah Sulteng</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/04/04/lokasabha-peradah-sulteng/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/04/04/lokasabha-peradah-sulteng/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 11:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lamunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Pemuda harapan bangsa, kata-kata itu sering didengungkan untuk memotivasi para pemuda. Bagaimana caranya? Cara untuk menjadi harapan bangsa adalah kreatifitas. Ya, di tengah tuntutan global, pemuda wajib memiliki kreatifitas yang kompetitif sehingga mampu melahirkan pemuda yang mandiri. Kemandirian pemuda akan mampu menjadikan bangsa yang memiliki eksistensi. Hal ini sejalan dengan pemikiran tokoh panutan, MK Gandhi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class=" alignleft" style="margin: 1px;" src="http://wayansudane.files.wordpress.com/2010/05/palu.jpg?w=150" alt="" width="150" height="99" /></p>
<p>Pemuda harapan bangsa, kata-kata itu sering didengungkan untuk  memotivasi para pemuda. Bagaimana caranya?<br />
Cara untuk menjadi harapan bangsa adalah kreatifitas. Ya, di tengah  tuntutan global, pemuda wajib memiliki kreatifitas yang kompetitif  sehingga mampu melahirkan pemuda yang mandiri.</p>
<p>Kemandirian pemuda akan mampu menjadikan bangsa yang memiliki  eksistensi. Hal ini sejalan dengan pemikiran tokoh panutan, MK Gandhi  yaitu swadesi. Melalui nilai inilah kemandirian bisa dibangun.</p>
<p>Hal ini menjadi semangat bagi pelaksanaan Lokasabha VI Peradah Indonesia Sulteng tanggal 02 &#8211; 03 April 2010 lalu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/04/04/lokasabha-peradah-sulteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyepi untuk Ketenangan Negeri</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan melaksanakan brata penyepian. Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan amati geni (tidak menyalakan api), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932.jpg"><img class="size-medium wp-image-131  alignleft" title="Selamat Hari Raya Nyepi 1932" src="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a><strong>Pekan</strong> ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru  Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut  perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi  jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan  melaksanakan brata penyepian.</p>
<p>Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan <em>amati geni</em> (tidak  menyalakan api),<em> amati karya</em> (tidak bekerja), <em>amati lelungaan</em> (tidak  bepergian), dan <em>amati lelanguan</em> (tidak berfoya-foya/tanpa hiburan).</p>
<p>Diharapkan melalui brata penyepian tersebut, umat Hindu dapat  menemukan jati diri untuk melangkah lebih baik lagi pada tahun  berikutnya. Melalui kontemplasi yang penuh makna untuk mencapai  kesadaran diri, umat Hindu berharap terwujudnya kedamaian diri, bangsa,  dan negara.<span id="more-132"></span></p>
<p>Tentu saja kedamaian menjadi harapan setiap umat manusia karena  dengan damai dapat terwujud sinergi untuk saling mengisi dalam aktivitas  apa pun. Berangkat dari kesadaran serta kedamaian dalam diri ini kita  dapat melangkah lebih luas lagi untuk menciptakan kesejahteraan baik  bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p><strong>Kedamaian untuk Negeri</strong></p>
<p>Makna Nyepi tidak saja untuk ketenangan diri, tetapi juga untuk  masyarakat yang lebih luas lagi. Melalui kesadaran diri diharapkan dapat  memberikan dampak bagi pembangunan masyarakat sekitar. Dengan demikian  akumulasi kesadaran dan kedamaian diri memberi dampak bagi pembangunan  negeri.</p>
<p>Tercapainya kedamaian negeri akan mengantarkan kesejahteraan bagi  masyarakat. Akhir-akhir ini kondisi politiklah yang membuat suasana  negeri kian “panas”. Setiap hari masyarakat selalu disuguhkan sajian  media terkait dengan kondisi perpolitikan negeri. Kondisi ini tentu saja  sedikit melupakan kemajuan sektor lainnya seperti ekonomi, budaya,  maupun pertahanan keamanan.</p>
<p>Hasilnya, banyak sektor yang mengalami gangguan, pun pemerintah tentu  saja akan sulit untuk fokus pada program-program promasyarakat. Bila  kondisi ini berlarut-larut akan sangat susah untuk mencapai pembangunan  yang berkelanjutan. Hal ini bisa saja terjadi, sebab masing-masing pihak  hanya berupaya untuk mempertahankan kondisi saat ini saja tanpa melihat  keberlangsungan masa depan. Untuk itu perenungan yang dalam perlu  dilakukan elite bangsa ini untuk melihat dan melangkah bersama memajukan  negeri.</p>
<p><strong>Politik Mendominasi</strong></p>
<p>Beberapa minggu lalu, konstelasi politik nasional menjadi sorotan  tajam terkait dengan kasus Bank Century. Kondisi ini mengantarkan  puncaknya pada rapat paripurna DPR. Tentu saja lobi-lobi politik  dilakukan begitu kencang terkait pilihan-pilihan keputusan yang diambil.  Pun pascaparipurna DPR tersebut masih berlanjut kepada hangatnya  kondisi perpolitikan di Indonesia.</p>
<p>Tentu saja kondisi-kondisi lainnya seolah tidak mendapat perhatian  serius sehingga berpotensi mengalami kemunduran. Bila fokus dan  stabilitas nasional didominasi oleh ramainya politik, dikhawatirkan akan  memengaruhi kondisi perekonomian yang muaranya akan memperbesar jurang  kemiskinan.</p>
<p>Dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang merajut pembangunan  menuju perekonomian yang kuat, sulit rasanya bila tidak dimulai dari  kuatnya perekonomian berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan saat  ini dan masa yang akan datang. Dengan kuatnya perekonomian, negara dan  pemerintah dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada  masyarakat.</p>
<p>Melalui momentum ini sudah saatnya kita bersama-sama membangun  berbagai sektor kehidupan dengan semangat politik kebersamaan untuk  memajukan masyarakat Indonesia. Politik kebersamaan ini mengutamakan  kepentingan bangsa dan negara menuju kesejahteraan masyarakat dalam  bingkai demokrasi dan keadilan sosial.</p>
<p>Rasanya makna Nyepi dalam perenungan dan intropeksi sangat relevan  untuk merajut kebersamaan membangun negeri. Melalui introspeksi diri  sudah saatnya kita bersama-sama berbuat dan bertindak untuk kepentingan  bersama, bukan lagi untuk kekuasaan semata. Keanekaragaman budaya, suku,  agama, dan masih banyak lagi yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan  tali untuk mempererat ikatan kebersamaan. Saatnya<em> tenangkan diri,  membangun negeri, mari Nyepi.</em></p>
<p>Sumber: http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010031700464076</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
