<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wayan sudane &#187; Kliping Media</title>
	<atom:link href="http://wayansudane.net/category/kliping-media/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wayansudane.net</link>
	<description>merangkai kata mencari makna...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 11:17:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nyepi untuk Ketenangan Negeri</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan melaksanakan brata penyepian. Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan amati geni (tidak menyalakan api), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932.jpg"><img class="size-medium wp-image-131  alignleft" title="Selamat Hari Raya Nyepi 1932" src="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a><strong>Pekan</strong> ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru  Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut  perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi  jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan  melaksanakan brata penyepian.</p>
<p>Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan <em>amati geni</em> (tidak  menyalakan api),<em> amati karya</em> (tidak bekerja), <em>amati lelungaan</em> (tidak  bepergian), dan <em>amati lelanguan</em> (tidak berfoya-foya/tanpa hiburan).</p>
<p>Diharapkan melalui brata penyepian tersebut, umat Hindu dapat  menemukan jati diri untuk melangkah lebih baik lagi pada tahun  berikutnya. Melalui kontemplasi yang penuh makna untuk mencapai  kesadaran diri, umat Hindu berharap terwujudnya kedamaian diri, bangsa,  dan negara.<span id="more-132"></span></p>
<p>Tentu saja kedamaian menjadi harapan setiap umat manusia karena  dengan damai dapat terwujud sinergi untuk saling mengisi dalam aktivitas  apa pun. Berangkat dari kesadaran serta kedamaian dalam diri ini kita  dapat melangkah lebih luas lagi untuk menciptakan kesejahteraan baik  bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p><strong>Kedamaian untuk Negeri</strong></p>
<p>Makna Nyepi tidak saja untuk ketenangan diri, tetapi juga untuk  masyarakat yang lebih luas lagi. Melalui kesadaran diri diharapkan dapat  memberikan dampak bagi pembangunan masyarakat sekitar. Dengan demikian  akumulasi kesadaran dan kedamaian diri memberi dampak bagi pembangunan  negeri.</p>
<p>Tercapainya kedamaian negeri akan mengantarkan kesejahteraan bagi  masyarakat. Akhir-akhir ini kondisi politiklah yang membuat suasana  negeri kian “panas”. Setiap hari masyarakat selalu disuguhkan sajian  media terkait dengan kondisi perpolitikan negeri. Kondisi ini tentu saja  sedikit melupakan kemajuan sektor lainnya seperti ekonomi, budaya,  maupun pertahanan keamanan.</p>
<p>Hasilnya, banyak sektor yang mengalami gangguan, pun pemerintah tentu  saja akan sulit untuk fokus pada program-program promasyarakat. Bila  kondisi ini berlarut-larut akan sangat susah untuk mencapai pembangunan  yang berkelanjutan. Hal ini bisa saja terjadi, sebab masing-masing pihak  hanya berupaya untuk mempertahankan kondisi saat ini saja tanpa melihat  keberlangsungan masa depan. Untuk itu perenungan yang dalam perlu  dilakukan elite bangsa ini untuk melihat dan melangkah bersama memajukan  negeri.</p>
<p><strong>Politik Mendominasi</strong></p>
<p>Beberapa minggu lalu, konstelasi politik nasional menjadi sorotan  tajam terkait dengan kasus Bank Century. Kondisi ini mengantarkan  puncaknya pada rapat paripurna DPR. Tentu saja lobi-lobi politik  dilakukan begitu kencang terkait pilihan-pilihan keputusan yang diambil.  Pun pascaparipurna DPR tersebut masih berlanjut kepada hangatnya  kondisi perpolitikan di Indonesia.</p>
<p>Tentu saja kondisi-kondisi lainnya seolah tidak mendapat perhatian  serius sehingga berpotensi mengalami kemunduran. Bila fokus dan  stabilitas nasional didominasi oleh ramainya politik, dikhawatirkan akan  memengaruhi kondisi perekonomian yang muaranya akan memperbesar jurang  kemiskinan.</p>
<p>Dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang merajut pembangunan  menuju perekonomian yang kuat, sulit rasanya bila tidak dimulai dari  kuatnya perekonomian berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan saat  ini dan masa yang akan datang. Dengan kuatnya perekonomian, negara dan  pemerintah dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada  masyarakat.</p>
<p>Melalui momentum ini sudah saatnya kita bersama-sama membangun  berbagai sektor kehidupan dengan semangat politik kebersamaan untuk  memajukan masyarakat Indonesia. Politik kebersamaan ini mengutamakan  kepentingan bangsa dan negara menuju kesejahteraan masyarakat dalam  bingkai demokrasi dan keadilan sosial.</p>
<p>Rasanya makna Nyepi dalam perenungan dan intropeksi sangat relevan  untuk merajut kebersamaan membangun negeri. Melalui introspeksi diri  sudah saatnya kita bersama-sama berbuat dan bertindak untuk kepentingan  bersama, bukan lagi untuk kekuasaan semata. Keanekaragaman budaya, suku,  agama, dan masih banyak lagi yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan  tali untuk mempererat ikatan kebersamaan. Saatnya<em> tenangkan diri,  membangun negeri, mari Nyepi.</em></p>
<p>Sumber: http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010031700464076</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Mahasiswa Diduga Ditunggangi</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/06/26/aksi-mahasiswa-diduga-ditunggangi/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/06/26/aksi-mahasiswa-diduga-ditunggangi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2008/06/26/aksi-mahasiswa-diduga-ditunggangi/</guid>
		<description><![CDATA[PARA pentolan mahasiswa menyerukan agar demonstrasi menentang kebijakan pemerintah menaikan harga BBM menghindari anarki. Hal itu merugikan masyarakat dan membentuk persepsi negatif publik kepada mahasiswa. Kekerasan diyakini tidak akan menyelesaikan masalah, justru memunculkan masalah baru. Gerakan mahasiswa juga diingatkan untuk mewaspadai kepentingan politik yang diusung elit politik tertentu yang menunggangi gerakan mahasiswa. Namun, elit mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PARA</strong> pentolan mahasiswa menyerukan agar demonstrasi menentang kebijakan pemerintah menaikan harga BBM menghindari anarki. Hal itu merugikan masyarakat dan membentuk persepsi negatif publik kepada mahasiswa.</p>
<p>Kekerasan diyakini tidak akan menyelesaikan masalah, justru memunculkan masalah baru. Gerakan mahasiswa juga diingatkan untuk mewaspadai kepentingan politik yang diusung elit politik tertentu yang menunggangi gerakan mahasiswa.</p>
<p>Namun, elit mahasiswa mengingatkan pemerintah dan DPR untuk segera merespon aspirasi rakyat yang menolak kenaikan harga BBM. Pernyataan itu diutarakan sejumlah pentolan mahasiswa, terkait demonstrasi yang berujung anarki di DPR dan Universitas Atma Jaya, Jakarta, Selasa (24/6).</p>
<p>Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Rodli Kaelani menyatakan gerakan mahasiswa harus mewaspadai aksi-aksi anarkis. Dia menyesalkan jika kemudian aksi mahasiswa harus diwarnai anarkisme.</p>
<p>&#8220;Kita mengingatkan teman-teman untuk mewaspadai aksi-aksi yang sifatnya anarkis. Sebisa mungkin jangan anarki. Lebih baik damai. Tetapi, jangan pula disalahkan sepenuhnya ke mahasiswa,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski ia menilai anarki terjadi karena ada indikasi aparat kepolisian melakukan provokasi ke mahasiswa. Selain itu semua pendekatan dialogis sudah dilakukan mahasiswa mendesak pemerintah agar tidak menaikan harga BBM. Namun, desakan penolakan kenaikan harga BBM tidak ditanggapi pemerintah.</p>
<p>Mahasiswa juga marah lantaran sikap politik yang tidak jelas untuk menggolkan hak angket penolakan harga BBM. Elit politik DPR tidak serius menanggapi hak angket. Rodli tak menampik jika gerakan mahasiswa telah ditunggangi oknum tertentu. &#8220;Ya (ditunggangi, red). Itu memungkinkan. Tetapi, sepanjang diletakkan dalam frame gerakan perubahan, itu biasa saja. Tetapi terlalu berlebihan kalau harus bakar-bakaran,&#8221; katanya. <span id="more-60"></span></p>
<p>Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Goklas Nababan juga menyesalkan aksi demonstrasi yang berujung anarki. Dia menuding ada penyusup yang masuk dalam demo. &#8220;Ada penyusup. Tidak murni itu aksi mahasiswa,&#8221; katanya.</p>
<p>Presidium Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pusat Wayan Sudane menilai, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Dia mengakui jika saat telah muncul image negatif dari masyarakat terkait dengan demonstrasi mahasiswa yang berujung pada anarki.</p>
<p>Menurut dia, anarki terjadi lantaran kadang setting awal yang telah dirancang, nyatanya tidak sesuai saat mahasiswa berada di lapangan. &#8220;Saat terjadi anarki, kita tidak dapat mengantisipasi secara cepat apa yang terjadi di lapangan,&#8221; katanya.</p>
<p>by : <em><strong>M. Yamin Panca Setia &#8211; Jurnal Nasional </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/06/26/aksi-mahasiswa-diduga-ditunggangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkembangkan Pendidikan Politik Rakyat (politika)</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/06/26/menumbuhkembangkan-pendidikan-politik-rakyat-politika/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/06/26/menumbuhkembangkan-pendidikan-politik-rakyat-politika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2008/06/26/menumbuhkembangkan-pendidikan-politik-rakyat-politika/</guid>
		<description><![CDATA[Demokrasi merupakan pilihan dan nilai politik yang senantiasa harus diperjuangkan pascabergulirnya reformasi 1998. Dan, menumbuhkembangkan pendidikan politik rakyat kini menjadi salah satu agenda pilihan bagi gerakan mahasiswa dan kaum muda Indonesia untuk melanjutkan kembali perjuangan reformasi. Melalui tantangan baru ini diharapkan penilaian publik atas semakin melemahnya gerakan mahasiswa dan kaum muda saat ini perlahan-lahan mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Demokrasi</strong> merupakan pilihan dan nilai politik yang senantiasa harus diperjuangkan pascabergulirnya reformasi 1998. Dan, menumbuhkembangkan pendidikan politik rakyat kini menjadi salah satu agenda pilihan bagi gerakan mahasiswa dan kaum muda Indonesia untuk melanjutkan kembali perjuangan reformasi. Melalui tantangan baru ini diharapkan penilaian publik atas semakin melemahnya gerakan mahasiswa dan kaum muda saat ini perlahan-lahan mulai tertepis.</p>
<p>Gerakan mahasiswa dan kaum muda memang tak dapat dilepaskan dari sejarah dan dinamika perubahan di Indonesia sejak era pra kemerdekaan. Meski mengalami pasang surut, namun hingga kini mahasiswa dan kaum muda tetap memiliki semangat untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Dan, perubahan itu dapat dilakukan melalui pelibatan rakyat secara penuh dalam pembangunan dan pelembagaan politik.<br />
<span id="more-59"></span><br />
&#8220;Kita terus coba memberikan pendidikan politik ke rakyat untuk dapat bersikap kritis melihat berbagai fenomena yang ada,&#8221; kata Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fajar R Zulkarnaen kepada Jurnal Nasional, kemarin.</p>
<p>Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Eko Nugroho R. Menurutnya, gerakan mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi rakyat akan menjadi sia-sia jika tidak didukung oleh kebijakan parlemen (DPR) yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dan, penguatan parlemen yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat dapat dicapai melalui pembangunan partai politik (parpol) yang lebih baik ke depan.</p>
<p>Berdasarkan hasil survei yang pernah dilakukan Hikmahbudhi keterlibatan rakyat dalam parpol selama ini baru sebatas ikut-ikutan atau larut dalam ketokohan seseorang. Padahal, essensi parpol itu adalah sebagai wadah untuk menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat melalui wakil-wakilnya yang duduk parlemen, baik di pusat maupun daerah. Dan, kondisi seperti ini tentu harus diubah ke depan karena tidak mendukung cita-cita demokrasi.</p>
<p>&#8220;Jadi yang kita bangun hari ini adalah pendidikan politik ke rakyat betapa strategisnya posisi partai dan bagaimana rakyat bisa menjadi kontrol partai,&#8221; kata Eko Nugroho.</p>
<p>Eko Nugroho mengatakan tantangan yang dihadapi gerakan mahasiswa dan kaum muda saat ini memang berat karena kondisinya sudah berbeda dengan 1998. Realitas di lapangan juga menunjukkan beragamnya simpul gerakan dengan berbagai latar belakang dan kepentingan. Oleh sebab itu, penyatuan visi gerakan mahasiswa dan kaum muda ke depan menjadi penting dalam menyongsong berbagai agenda perubahan.</p>
<p>Secara terpisah, Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) Wayan Sudane mengatakan selain menumbuhkembangkan pendidikan politik rakyat, gerakan mahasiswa saat ini juga terus melakukan perbaikan perkaderan internal dan pengayaan program kerakyatan, seperti advokasi kelompok masyarakat kecil tertindas. Melalui pengayaan program kerakyatan itu diharapkan mahasiswa dapat mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi rakyat dewasa ini.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya di internal kita sudah lakukan itu, misal advokasi dan pembinaan yang langsung turun ke masyarakat,&#8221; katanya.</p>
<p><em>by : <strong>Arjuna Al Ichsan &#8211; Jurnal Nasional</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/06/26/menumbuhkembangkan-pendidikan-politik-rakyat-politika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>”Adakah yang Memelihara Pohon itu?”</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/06/06/%e2%80%9dadakah-yang-memelihara-pohon-itu%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/06/06/%e2%80%9dadakah-yang-memelihara-pohon-itu%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 13:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[ADA sebuah kegelisahan yang dilontarkan oleh salah satu tokoh yang dituakan malam itu. Ia melihat tidak adanya generasi-generasi yang meneruskan kepemimpinannya. Ada sebuah kecenderungan anak muda kita tidak lagi perduli kepada lingkungan sosialnya. Ia menuturkan sangat jarang generasi dibawahnya terutama yang muda-muda mau berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial keagamaan seperti ngayah, dan sebagainya. Hal yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img src="http://farm4.static.flickr.com/3267/2555409187_8d445a453a.jpg?v=0" align="left" height="135" hspace="3" vspace="3" width="136" />ADA</strong> sebuah kegelisahan yang dilontarkan oleh salah satu tokoh yang dituakan malam itu. Ia melihat tidak adanya generasi-generasi yang meneruskan kepemimpinannya. Ada sebuah kecenderungan anak muda kita tidak lagi perduli kepada lingkungan sosialnya. Ia menuturkan sangat jarang generasi dibawahnya terutama yang muda-muda mau berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial keagamaan seperti ngayah, dan sebagainya.</p>
<p>Hal yang sama juga ternyata dirasakan oleh beberapa teman-teman yang aktif di kampus atau yang sering dipanggil aktivis kampus. Dalam sebuah obrolan ringan menjelang malam dengan seorang teman ada sebuah pertanyaan yang hampir sama dengan kegelisahan sang tokoh tadi. ”Mengapa mahasiswa-mahasiswa Hindu atau kader-kader muda Hindu kita tidak mau aktif dalam kegiatan sosial keagamaan?,” tuturnya.</p>
<p>Tidak berhenti disitu, pertanyaannya juga secara tidak langsung ternyata ditujukan kepada senior ataupun sang tokoh yang dituakan tadi. ”Mengapa senior dan ’orang tua’ kita tidak memberikan pembinaan sehingga ada sebuah proses transformasi? Dan yang ironis lagi, mengapa yang muda seolah terus dieksploitasi sementara tidak ada pembinaan kepada generasi muda tadi.”</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga ada para generasi-generasi muda lainnya. Memang ada sebuah kecenderungan yang muda dituntut untuk memberikan kontribusi namun sering tidak dibarengi dengan pembinaan sehingga terjadi proses transformasi. Bagaimana mereka-mereka yang muda mau berkecimpung sementara tidak ada sesuatu nilai-nilai yang mereka dapatkan. Atau memang ada sebuah kepercayaan pada generasi tua seperti iklan ditelevisi bahwa yang muda belum dipercaya. <span id="more-51"></span></p>
<p>Mahasiswa yang notabene adalah kaum muda adalah generasi yang siap menampung nilai-nilai dari generasi yang lebih tua. Mahasiswa dan kaum muda adalah aset yang suatu saat akan mewarisi seluruh potensi yang ada. Bila ini tidak disadari dari sekarang dan tidak ada penanaman nilai-nilai yang dianggap benar sejak dini suatu saat kita akan kehilangan aset itu.</p>
<p>Mereka ibarat pohon, sebut saja pohon mangga. Untuk menghasilkan buah mangga yang segar dan baik (tidak busuk) pohon mangga tersebut harus dipelihara dengan baik pula. Tentu hasil atau buah tersebut tidak seketika. Ada sebuah proses yang harus dilakukan untuk mendapatkan buah yang baik. Pohon tersebut harus dipupuk secukupnya, pemberian pengobatan agar terhindar dari hama-hama maupun penyakit lainnya. Bila itu dilakukan secara baik tentu akan dihasilkan buah yang baik pula, segar dan enak untuk dimakan. Menjadi ironis kalau kita tidak pernah menanam pohon mangga, tidak pernah memeliharanya, kemudian mau memetik buahnya.</p>
<p>Analogi tersebut tampaknya berlaku juga untuk kaderisasi kaum muda. Kaum muda perlu mendapatkan ’pupuk’ berupa penanaman nilai-nilai yang diyakini membawa perubahan untuk perbaikan. Ketika semangat mereka surut perlu adanya dukungan yang akan menjadi ’air’ penyejuk sehingga mereka akan segar kembali. Kalau ini dilakukan kelak tentu mereka akan menghasilkan ’buah’ yang siap untuk dipetik.</p>
<p>Untuk memulai menanamkan nilai-nilai kepada kaum muda ada beberapa cara. Dari pengamatan penulis dapat dimulai dari bawah yang berarti ada dorongan dari kalangan muda itu sendiri untuk mengajak senior atau orang tua untuk bersama-sama menanam agar kelak ada suatu buah yang dihasilkan. Kedua, dorongan itu memang muncul dari atas yang berarti memang ada niatan dari senior atau orang tua untuk meneruskan sistem yang telah dibentuk agar ada kelangsungan dan perbaikan terus menerus. Ketiga karena ada suatu benturan sehingga ada paradigma baru untuk melahirkan sistem alias menanam kembali.</p>
<p>Faktor-faktor itu tentu akan menjadi wilayah penciptaan kader yang akan menghasilkan buah segar yang dapat dinikmati oleh si penanam ataupun siempunya. Lantas bagaimana distribusi buah-buah yang sudah siap tersebut? Dimana wilayah pasar atau dimana pasnya buah tersebut dijual agar memiliki pembeli dan harga pasar yang pas?</p>
<p>Itu juga akan menjadi masalah tersendiri. Faktor distribusi kader juga menjadi masalah kalau tidak disiapkan sejak awal. Begitu juga dengan posisi persaingan yang harus dilihat kedepan. Kalau tidak buah tersebut tidak akan memiliki nilai yang berarti karena hanya dapat dimakan sekali tanpa ada sebuah kontinuitas.</p>
<p>Untuk mewujudkan hal ini memang membutuhkan paradigma atau cara pandang sebagai suatu perjuangan yang akan memberikan manfaat dan  hasil yang dicita-citakan. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan generasi Hindu akan ’naik kelas’?</p>
<p>Sumber: Media Hindu &#8211; Juni 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/06/06/%e2%80%9dadakah-yang-memelihara-pohon-itu%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan yang Membebaskan</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/04/25/pendidikan-yang-membebaskan/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/04/25/pendidikan-yang-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Harapan dengan penuh keyakinan itu terpancar dari wajah anak berseragam putih merah itu. Wajah polos dengan tas berjalan menelusuri jalanan di pematang sawah. Tak lama serombongan anak-anak dengan seragam yang sama pun mengikuti. Sebuah wajah keceriaan dan keluguan canda membalut perjalanan sepulang dari sekolah. Tidak ada beban, pun masalah yang dihadapi anak-anak itu. Mereka hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img src="http://farm4.static.flickr.com/3015/2458013073_fd7154b9bf.jpg?v=0" title="sekolah dasar" alt="sekolah dasar" align="left" height="107" hspace="4" vspace="3" width="143" />Harapan</strong> dengan penuh keyakinan itu  terpancar  dari wajah  anak berseragam putih merah itu. Wajah polos dengan tas berjalan menelusuri jalanan di pematang sawah. Tak lama serombongan anak-anak  dengan  seragam  yang  sama pun mengikuti. Sebuah wajah keceriaan dan keluguan canda membalut perjalanan sepulang dari sekolah.</p>
<p>Tidak ada beban, pun masalah yang dihadapi  anak-anak  itu. Mereka  hanya tahu  belajar  dan meraih  nilai  terbaik untuk lulus dan melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Tak terpikir oleh mereka bagaimana sistem pendidikan dan bagaimana kebijakan ujian nasional yang hendak mereka hadapi. Tidak terbayang pula  oleh mereka,  ke  perguruan  tinggi mana kelak mereka menuju. Itupun kalau ada biaya untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. <span id="more-47"></span></p>
<p>Itulah  potret  anak  didik  kita  di pedesaan. Masih  banyak  ketidakjelasan nasib yang harus mereka  terima dengan beban sosial yang ada di sekitarnya. Belum lagi fasilitas sekolah hingga gedung sekolah yang banyak mengalami kerusakan. Tidak itu  saja,  seperti  yang  sering  kita  baca di media,  banyak  juga  anak-anak  yang putus sekolah lantaran harus membantu ekonomi orang tuanya.</p>
<p>Elit  pemegang  kebijakan  berlomba dengan  retorika  anggaran  20 %  untuk pendidikan. Begitu juga dengan gaji guru yang masih kecil alokasinya yang  sering berujung pada unjuk rasa. Janji-janji 20% APBN-APBD  untuk  pendidikan  sering ’dijual’ untuk mengait simpati masyarakat bahkan hingga pendidikan gratis ketika pemilu atau pilkada.</p>
<p>Sistem  pendidikan memang  sudah baik pada tataran normatif. Namun sangat tidak  baik  pada  tataran  implementatif. Masih tidak seimbangnya   tataran regulasi dan   tataran pelaksanaan menjadi masalah sehingga output yang dihasilkan pun jauh dari  harapan. Padahal      globalisasi  saat ini mensyaratkan  sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.</p>
<p>Kualitas  yang  diharapkan  adalah penguasaan sains serta teknologi terutama yang kini sedang nge-trend yaitu teknologi informasi  dan  komunikasi. Kualitas  itu tentu dibalut bersama kemampuan moral spritual  dan  kultural untuk melahirkan peserta didik yang berkarakter.</p>
<p>Kalau  kita  lihat  filosofi  pendidikan yang disampaikan Paulo Freire,  seorang pendidik multikultural  dari  Brazil, pendidikan harus mencapai  pengenalan realitas.  Pendidikan  dilakukan  untuk mencapai  pembebasan  beranjak  dari kondisi objektif dan kepekaan  terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini sangatlah jauh bila dilihat dengan sistem pendidikan kita. Potret buram ini berawal dari jauhnya realitas dengan sistem yang diciptakan.</p>
<p>Sebut saja misalnya kondisi ekonomi masyarakat kita yang tinggal di pedesaan dan masih tergolong ekonomi menengah ke  bawah  tidak menjadi  pijakan  dalam menentukan  s i s t em  pendidikan. Sekolah  hingga  perguruan  t inggi menjadi industri  yang mementingkan profit. Dampaknya  adalah  yang  berhak mengenyam  pendidikan  adalah mereka yang memiliki kapital. Sekolah  tumbuh menjadi  industri kapitalis dan  jauh dari misi sosial kemanusiaan.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Hindu?</strong><br />
Pendidikan  adalah  investasi  jangka panjang  untuk mencapai  output  SDM yang  berkualitas melalui  proses  yang menyadarkan  (pembebasan). Hal inilah  yang  harus  kita  sadari  sebagai ketertinggalan  yang harus  terus dikejar.<br />
Tingkat  pendidikan  umat Hindu  yang masih  rendah  harus  terus  diupayakan untuk mencapai kualitas pendidikan. Saatnya  umat Hindu  fokus  pada pembangunan<em> content</em> yaitu SDM dengan berbagai  kaderisasi-kaderisasi  yang diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan menjadi sangat vital dalam pembangunan sumber  daya  umat  yang  pada  saatnya nanti dapat meningkatkan bidang lainnya seperti ekonomi, kesehatan dan bidang-bidang lainnya.</p>
<p>Sebagai renungan kita, hasil keputusan Pesamuhan Agung Parisada  tahun 2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendidikan dalam  latar  belakangnya menjelaskan bahwa  dari  sensus  tahun  1980  sampai 2000 umat Hindu memiliki tingkat buta huruf yang tertinggi. Tahun 1980 tingkat buta  huruf  umat Hindu  sebesar  38% kemudian turun menjadi 25% pada tahun 1990.  Sedangkan  tahun  2000 menjadi 16,9%. Angka itu rupanya masih tertinggi bila  dibandingkan  dengan  umat  Islam (11,2%),  Protestan  (10,2%), Katolik (10,4%). Dan yang paling rendah adalah umat Budha yaitu hanya 6,6%.</p>
<p>Dari  realitas  itu,  sudah  seharusnya kini umat Hindu fokus pada pendidikan.  Tanpa  itu  semua,  kita  hanya menjadi kaum marjinal di tengah pentas persaingan global. Dan  dampaknya  juga  berimbas kepada masyarakat nasional sebagaimana umat Hindu merupakan  bagian  dari masyarakat Indonesia. Imbas terbelakang tidak  hanya  dialami  oleh  umat Hindu tapi juga bangsa dan negara ini.  Di sini peran  prioritas  pendidikan  yang  harus didukungan  oleh  segenap  elemen umat menjadi penting.</p>
<p>2 Mei adalah hari pendidikan nasional. Semoga momentum ini menjadi renungan kita bersama untuk bangkit dan terbebas dari  penindasan  seperti  yang  dicita-citakan Paulo Freire.</p>
<p><em>Penulis Presidium Pimpinan Pusat KMHDI</em></p>
<p><em>Sumber: Media Hindu, Edisi 51 Mei 2008 </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/04/25/pendidikan-yang-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
