Aksi Mahasiswa Diduga Ditunggangi
PARA pentolan mahasiswa menyerukan agar demonstrasi menentang kebijakan pemerintah menaikan harga BBM menghindari anarki. Hal itu merugikan masyarakat dan membentuk persepsi negatif publik kepada mahasiswa.
Kekerasan diyakini tidak akan menyelesaikan masalah, justru memunculkan masalah baru. Gerakan mahasiswa juga diingatkan untuk mewaspadai kepentingan politik yang diusung elit politik tertentu yang menunggangi gerakan mahasiswa.
Namun, elit mahasiswa mengingatkan pemerintah dan DPR untuk segera merespon aspirasi rakyat yang menolak kenaikan harga BBM. Pernyataan itu diutarakan sejumlah pentolan mahasiswa, terkait demonstrasi yang berujung anarki di DPR dan Universitas Atma Jaya, Jakarta, Selasa (24/6).
Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Rodli Kaelani menyatakan gerakan mahasiswa harus mewaspadai aksi-aksi anarkis. Dia menyesalkan jika kemudian aksi mahasiswa harus diwarnai anarkisme.
“Kita mengingatkan teman-teman untuk mewaspadai aksi-aksi yang sifatnya anarkis. Sebisa mungkin jangan anarki. Lebih baik damai. Tetapi, jangan pula disalahkan sepenuhnya ke mahasiswa,” katanya.
Meski ia menilai anarki terjadi karena ada indikasi aparat kepolisian melakukan provokasi ke mahasiswa. Selain itu semua pendekatan dialogis sudah dilakukan mahasiswa mendesak pemerintah agar tidak menaikan harga BBM. Namun, desakan penolakan kenaikan harga BBM tidak ditanggapi pemerintah.
Mahasiswa juga marah lantaran sikap politik yang tidak jelas untuk menggolkan hak angket penolakan harga BBM. Elit politik DPR tidak serius menanggapi hak angket. Rodli tak menampik jika gerakan mahasiswa telah ditunggangi oknum tertentu. “Ya (ditunggangi, red). Itu memungkinkan. Tetapi, sepanjang diletakkan dalam frame gerakan perubahan, itu biasa saja. Tetapi terlalu berlebihan kalau harus bakar-bakaran,” katanya. (more…)

ADA sebuah kegelisahan yang dilontarkan oleh salah satu tokoh yang dituakan malam itu. Ia melihat tidak adanya generasi-generasi yang meneruskan kepemimpinannya. Ada sebuah kecenderungan anak muda kita tidak lagi perduli kepada lingkungan sosialnya. Ia menuturkan sangat jarang generasi dibawahnya terutama yang muda-muda mau berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial keagamaan seperti ngayah, dan sebagainya.
Harapan dengan penuh keyakinan itu terpancar dari wajah anak berseragam putih merah itu. Wajah polos dengan tas berjalan menelusuri jalanan di pematang sawah. Tak lama serombongan anak-anak dengan seragam yang sama pun mengikuti. Sebuah wajah keceriaan dan keluguan canda membalut perjalanan sepulang dari sekolah.



Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...