wayan sudane

merangkai kata mencari makna

Archive for the ‘News’


Perusakan Pura Sangkareang di Lombok Barat: Nodai Semangat Toleransi

Jakarta (GP-Ansor): Kekerasan tampaknya mulai mewarnai awal tahun 2008 ini. Berbagai isu yang berbau sara (suku, agama, ras, antar golongan) telah menodani semangat kebersamaan dan toleransi warga negara. Salah satu kejadian yang telah menodai semngat kebersamaan dan toleransi itu adalah Kasus perusakan dan pembakaran Pura Sangkareang di kecamatan Narmada, kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 15 Januari 2008 lalu.

Adanya perusakan tempat ibadah dan intimidasi kepada umat Hindu tersebut adalah cermin kegagalan penanaman nilai-nilai kebersamaan dan pelaksanaan dari ajaran agama. Bila tidak diredam, potensi konflik ini akan terus merambah kepada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian antara lain isi pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) yang ditandatangani oleh Wayan Sudane (Presidium) yang diterima redaksi gp-ansor.org hari ini (18/12008). (more…)

Bekerjalah untuk tanah air

” Janam bibhrati bahudha mimasacam
Nana dharmanam prthivi yatokasam
Sahastram dhana dravinasya me duham
Dhruveva dhenur anapaspuranti “.[Ath.V.XII.1.45]

Artinya :
” Bekerjalah untuk tanah air dan bangsamu dengan berbagai cara. Hormatilah cita-cita bangsamu. Ibu Pertiwi sebagai sumber mengalirnya sungai kemakmuran dengan ratusan cabang. Hormatilah tanah airmu seperti kamu memuja Tuhan. Dari jaman abadi Ibu Pertiwi memberikan kehidupan kepadamu semua,karena itu Anda berhutang kepada-Nya “.

Makloemat Pemuda Indonesia

WARISI API SUMPAH PEMUDA!”

(warpisuda!)

Bangun politik persatuan pemuda!

Percepatan alih generasi kepemimpinan politik untuk pemuda!

    lawan neo-liberalisme dan feodalisme untuk keadilan sosial bangsa!

Tujuh puluh sembilan tahun sudah sumpah untuk satoe tanah air, satoe bangsa dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang disuarakan kaum muda saat itu menjadi prinsip pokok perjuangan kearah pembentukan negara bangsa. Garis politik persatuan yang tercermin dari sumpah yang dinyatakan pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut pada hakikatnya adalah sebuah kesadaran bersama atas situasi tata kehidupan berwatak kapitalistik serta belitan feodalisme yang menghambat kemajuan.

Hari ini, sumpah yang melibatkan segenap unsur pemuda itu, makin menemukan relevansinya. Belum hilangnya struktur penghisapan kapitalisme yang hadir dalam setiap agenda-agenda pembangunan bercorak neoliberal, pembatasan peran negara dalam mengatur sistem investasi, eksploitasi sumberdaya alam serta pengadaan barang dan jasa publik oleh korporasi global, terbukti menyebabkan ketimpangan struktur sosial dimana jurang kaum melarat dengan kaum berpunya semakin lebar. Negara yang seharusnya menjadi pelindung segenap tumpah darah rakyatnya, lemah tak berdaya menghadapi desakan-desakan agenda global.

situsasi diatas diperparah dengan lemahnya kepemimpinan politik saat ini. lambannya alih generasi dalam kepemimpinan, lahir dari tata hubungan sosial bercorak feodalistik. keengganan memberikan kesempatan serta tidak sepenuh hatinya para generasi terdahulu dalam mendorong akselerasi berkembangnya tunas-tunas bangsa adalah bagian dari ekspresi feodalisme saat ini. keterlibatan pemuda dalam pengambilan keputusan strategis dalam konteks arah perubahan bangsa masih dalam posisi pinggiran alias pelengkap sekaligus pemanis dari proses yang berdampak panjang itu.

inilah situasi yang sebangun dengan fase sumpah pemuda 1928. tata kehidupan bercorak neoliberal yang penuh penghisapan dari luar serta feodalisme akut dari dalam, masih menjadi hambatan besar bagi kemajuan bangsa. berangkat dari sutiasi objektif diatas, maka kami para pemuda Indonesia menyampaikan makloelat.

kami pemuda Indonesia bertekad untuk ;

Membangun semangat baru, semangat politik persatuan

Mempercepat alih kepemimpinan, kepemimpinan ditangan pemuda

Meretas struktur sosial baru, struktur sosial anti neoliberalisme dan feodalisme

- GMNI - PMII - HMI - GMKI - PMKRI - KMHDI - HIKMAHBUDHI -

 

Berlintas di Kukar

lembu-swana.gifSuasana alam dengan bentangan daerah aliran sungai Mahakam benar-benar dapat dirasakan secara nyata. Begitu juga dengan hiruk pikuk warga yang menandakan bahwa daerah ini memiliki potensi kekayaan alam yang melimbah. Kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan taksi dari Balikpapan, terlintaslah kita menelusuri jalanan dipinggir sungai Mahakam. Memasuki pinggiran kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, bertambah tertegun dengan suasana kekayaan alam batubara yang diusung truk-truk maupun kapal yang melalui sungai Mahakam.

Hari semakin sore dengan suasana yang masih cerah memberikan kesan keindahan ikon kabupaten di Kalimantan Timur ini. Sebuah jembatan dengan panjang 712 meter membentang menghubungkan Tenggarong dengan Samarinda. Selain itu, keindahan kota ditambah dengan adanya pulau Kumala yang berada di tengah sungai Mahakam atau tepatnya berada disekitar kantor DPRD Kukar. Dipinggiran sungai itu juga dibangun trotoar dan tembok yang sepertinya memang diperuntukan untuk menghabiskan sore. Ataupun sekedar tempat duduk-duduk di sore hari sembari memandang lalu lalang di kendaraan yang melintasi jembatan.

Selain itu, daerah ini mengingatkan pada kerajaan Hindu pertama di Indonesia. Ya, Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu di Nusantara yang terletak di Muara Kaman atau tepatnya di hulu sungai Mahakam. Seperti informasi dari Yupa yang berasal dari abad ke-4, diketahui bahwa raja Kutai saat itu adalah Mulawarman.

Tak heran, ketika suasana Hindu masih melekat di daerah itu. Seperti maskot daerah yaitu Lembu Swana. Ketika maskot ini juga digunakan untuk kejurnas karate 2003, Sugiyanto, sang desainer pun menjelaskan filosofinya. Lembu Swana merupakan seekor binatang keramat dalam mitologi Kutai Kartanegara. Ia bermahkota namun bukan raja, berbelalai namun bukan gajah, memiliki sepasang sayap namun ia bukanlah seekor burung. Menurut legenda Kutai, Lembu Swana adalah makhluk yang menghantarkan bayi bernama Puteri Karang Melenu, yang kemudian menjadi permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.