<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wayan sudane &#187; News</title>
	<atom:link href="http://wayansudane.net/category/berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wayansudane.net</link>
	<description>merangkai kata mencari makna...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2010 09:16:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sinergi untuk Negeri</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 09:07:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Dewan Pimpinan Nasional Peradah Indonesia terus melakukan berbagai upaya menuju tata kelola organisasi yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sinergi dengan berbagai pihak sebagaimana dicanangkan dalam program umum organisasi. Semangat inilah yang melandasi pelaksanaan Rapat Kerja Nasional VIII Peradah Indonesia yang akan di selenggarakan 06 – 08 Agustus mendatang di Palembang, Sumatera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="http://mediahindu.net/images/stories/FotoArtikel/rekernas%20peradah%20vii.jpg" src="http://mediahindu.net/images/stories/FotoArtikel/rekernas%20peradah%20vii.jpg" alt="" width="151" height="106" />Dewan Pimpinan Nasional Peradah  Indonesia terus melakukan berbagai upaya menuju tata kelola organisasi  yang baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan sinergi  dengan berbagai pihak sebagaimana dicanangkan dalam program umum  organisasi.</p>
<p>Semangat inilah yang melandasi pelaksanaan Rapat  Kerja Nasional VIII Peradah Indonesia yang akan di selenggarakan 06 – 08  Agustus mendatang di Palembang, Sumatera Selatan. Semangat dalam  pelaksanaan Rakernas tersebut telah diterjemahkan dalam sebuah simbol  yang menjadi logo panitia Rakernas VIII Peradah Indonesia.<br />
<span id="more-166"></span><br />
<strong>Filosofi ‘Sinergi untuk Negeri’</strong></p>
<p>Peradah  Indonesia berpandangan bahwa untuk bisa bersinergi, pihak-pihak yang  memiliki perspektif beragam perlu dijembatani. Dengan demikian setiap  kegiatan yang dilakukan bisa berjalan selaras walaupun bergerak di ranah  yang berbeda-beda. “Adanya sinergi dapat mencapai tujuan akhir yang  sama,” tandas Gede Ananta Wijaya, sang kreator yang menuangkannya ke  dalam logo kepanitiaan.</p>
<p>Image jembatan yang digunakan adalah  Jembatan Ampera yang melintasi sungai Musi di Sumatera Selatan. Hal ini  juga menggambarkan ikon daerah di mana Rakernas akan diselenggarakan.</p>
<p>Sedangkan  empat tiang melambangkan Catur Yoga antara lain; Bhakti Yoga, Karma  Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga. Empat tiang tersebut mewakili empat  jalan/ranah aktifitas Peradah Indonesia dalam memajukan Pemuda Hindu  Indonesia.</p>
<p>Secara keseluruhan filosofi ini menggambarkan  pelayanan (sevanam) yang dilakukan kader-kader Peradah Indonesia dalam  menjalankan dharma agama dan dharma negara. ”Jembatan tak kenal  diskiriminasi, ia berbaring dan semuanya lewat,” jelas Putu Sukma  Hendrawan, Desainer yang membantu Ananta Wijaya.</p>
<p><strong>Kemandirian  Pemuda</strong><br />
Sebagai organisasi pemuda tingkat nasional,  Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) sudah seharusnya  mengelola organisasi secara profesional. Tata kelola organisasi dengan  mengedepankan prinsip-prinsip good governance menjadi sebuah ukuran  sederhana dari kemajuan dan kemapanan organisasi.</p>
<p>Untuk mencapai  tata kelola yang baik, Peradah Indonesia melakukan berbagai program yang  diinternalisasikan melalui berbagai kegiatan nyata di masyarakat.  Berbagai program dan road map organisasi dirumuskan melalui perencanaan  yang baik dalam forum yang melibatkan seluruh stakeholder Peradah  Indonesia.</p>
<p>Untuk mewujudkan hal tersebut, Rakernas VIII Peradah  Indonesia mengangkat tema kemandirian, yaitu “Sinergi untuk Negeri;  Gerakan Nasional Membangun kemandirian Pemuda.” Menurut Komang Adi  Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia, nilai dan semangat kegiatan ini  adalah mewujudkan langkah penting sebagai awal suatu perjalanan sakral  menuju kebesaran negeri. “Peradah Indonesia memiliki keyakinan bahwa  sinergi segenap anak bangsa akan mampu memberikan kontribusi dalam  membangun kemandirian bangsa,” jelasnya.<!-- JOM COMMENT START --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/07/05/sinergi-untuk-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8221;Green Tourism&#8221; adalah Pilihan</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 06:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[TAJUK RENCANA &#8211; Bali Post 17 Juni 2010 SEJATINYA, wacana green tourism atau yang dulu dikenal dengan ekowisata atau wisata yang berbasis lingkungan sudah terdengar gemanya sejak era awal 1990-an. Namun sejatinya pula, persoalan ini tumbuh dan berkembang sejak benih pariwisata itu tumbuh di Bali. Bukan lagi pada tataran konsep, namun sudah pada tahapan implementasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TAJUK RENCANA &#8211; <a href="http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&amp;kid=3&amp;id=3872" target="_blank">Bali Post</a> 17 Juni 2010</p>
<p>SEJATINYA, wacana green tourism atau yang dulu dikenal dengan ekowisata  atau wisata yang berbasis lingkungan sudah terdengar gemanya sejak era  awal 1990-an. Namun sejatinya pula, persoalan ini tumbuh dan berkembang  sejak benih pariwisata itu tumbuh di Bali. Bukan lagi pada tataran  konsep, namun sudah pada tahapan implementasi. Malah sudah jauh lebih  mendasar bahwa sebenarnya pariwisata di Bali yang ada saat ini adalah  pariwisata kerakyatan atau pariwisata yang berbasiskan masyarakat  (community based tourism).</p>
<p>Jauh sudah mengakar ketika para pakar sudah mulai memikirkan dan  kemudian bersuara lantang soal pariwisata kerakyatan serta green  tourism. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana saja. Kembali pada  filosofi manusia Bali itu sendiri yang mementingkan tiga hubungan  keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan  manusia (pawongan) serta manusia dengan lingkungan alam sekitarnya  (palemahan). Inilah yang dinamakan Tri Hita Karana, tiga penyebab  kebahagiaan.<span id="more-157"></span></p>
<p>Pada mulanya, pembangunan di Bali tidak hanya pariwisata didasarkan atas  ketiga hal mendasar ini. Namun pergeseran budaya akibat berbagai  kepentingan dan semakin &#8221;majunya&#8221; masyarakat Bali, kemudian muncul  sikap-sikap permisif yang makin menjauhkan dirinya dari konsep local  genius masyarakat Bali itu sendiri.</p>
<p>Yang mungkin menjadi tanda tanya besar adalah pemakaian terminologi  &#8221;menjauhkan&#8221; itu sendiri. Apakah benar masyarakat Bali menjauhkan diri  atau justru dijauhkan oleh kerangka dasar pemikiran adiluhung itu  sendiri? Jawabannya tentu sangat bisa diperdebatkan. Namun, menilik  fakta serta data yang ada saat ini, barangkali ada semacam pergulatan  kepentingan di dalamnya. Pertemalian kepentingan antara sebagian  masyarakat Bali sendiri dengan kepentingan pusat. Akhirnya, bisa  dikerucutkan dengan makin menguatnya kepentingan ekonomi, sehingga  fondasi Tri Hita Karana itu makin dikeroposkan. Ibarat jaring, sengaja  dibuat lubang-lubang agar ikan-ikan dengan sangat leluasa keluar-masuk.</p>
<p>Celakanya, persekongkolan ini tidak hanya terjadi di tataran oknum  birokrat tetapi juga sudah merambah oknum perangkat adat. Apa yang  terjadi kemudian? Sudah bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, bahwa  beginilah Bali sekarang. Pulau yang kecil ini sangat sarat dengan  masalah-masalah sosial, alam serta budaya. Tidak usah disebut, kita dan  para wisatawan sendiri, yang benar-benar peduli tentang Bali sangat  merasakan perubahan mendasar ini.</p>
<p>Ekowisata sebenarnya sebuah pilihan yang bisa dikawankan dengan iktikad,  komitmen serta integritas masyarakat Bali serta manusia Bali secara  luas. Namun dalam konteks ini, tidak berlebihan kalau kita mengharapkan  pengambil kebijakan bisa secara tegas menghasilkan keputusan mengikat  untuk kepentingan Bali ke depan. Begitu juga masyarakat Bali itu  sendiri. Jangan lagi terjebak oleh kepentingan sesaat sehingga  sebenarnya hanya ibarat menggali kuburan sendiri.</p>
<p>Pada awal 1990-an pun muncul dua kutub wacana yakni antara quality  tourism atau mass tourism. Yang menang siapa? Bisa kita lihat sekarang.  Tidak usah ada analisis njelimet. Kita lihat saja faktanya sekarang.  Banyak fasilitas pariwisata dibangun, banyak kabupaten berlomba-lomba  membangun hotel, restoran dan sebagainya. Tetapi hasil kongkretnya untuk  kesejahteraan masyarakat mana?</p>
<p>Saat ini saja, usulan membangun bandara baru, hotel baru, jalan layang  baru tidak pernah pudar. Ujung-ujungnya hanya melihat uang. Namun,  pernahkah dipikirkan dampaknya kelak. Mungkin pernah, tetapi si  perancang ini mungkin berpikir bahwa saat bencana itu terjadi maka dia  toh sudah mati.</p>
<p>Maka, mari kita ingat lagi petitih usang ini. Bali yang kita terima saat  ini, bukan untuk kita miliki, bukan pula untuk kita rusak. Bali ini  hanya titipan nenek moyang, untuk para anak-cucu kita kelak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/06/17/green-tourism-adalah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembentukan Peradah Indonesia Kepulauan Riau</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 09:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Bunga di sawah jangan dilukai, Karena sawah tempat menuai padi, Pemuda Peradah yang kami cintai, Marilah bersama membangun tanah Kepri. Itulah pantun yang dilantunkan Ketua Peradah Indonesia Kepulauan Riau (Kepri)   I Wayan Mesra Ariyawan saat pelantikan Pengurus DPP Peradah Indonesia Kepri akhir Mei lalu (28/5) di Wantilan Pura Agung Amertha Buana, Batam. * Dewan Pimpinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin: 2px;" title="http://farm5.static.flickr.com/4119/4884299491_af374e6f89_s.jpg" src="http://farm5.static.flickr.com/4119/4884299491_af374e6f89_s.jpg" alt="" width="75" height="75" />Bunga di sawah jangan dilukai,<br />
Karena sawah tempat menuai padi,<br />
Pemuda Peradah yang kami cintai,<br />
Marilah bersama membangun tanah Kepri.</em></p>
<p>Itulah pantun yang dilantunkan Ketua Peradah Indonesia Kepulauan Riau (Kepri)   I Wayan Mesra Ariyawan saat pelantikan Pengurus DPP Peradah Indonesia Kepri akhir Mei lalu (28/5) di Wantilan Pura Agung Amertha Buana, Batam.<br />
*</p>
<p>Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradah Indonesia terus melakukan program-program untuk menghidupkan sel-sel Peradah Indonesia pada setiap tingkatan hingga kabupaten. Salah satunya adalah membentuk Peradah Indonesia di provinsi yang belum memiliki kepengurusan Peradah Indonesia. <span id="more-161"></span></p>
<p>Program ini mendapat sambutan yang baik dari para pemuda Kepri. Dibawah arahan tokoh umat Kepri Wayan Catra Yasa, para pemuda Kepri telah melaksanakan sidang formatur yang melahirkan struktur dan kepengurusan Peradah Indonesia Kepri.</p>
<p>Menurut Wayan Mesra Ariyawan Ketua Peradah Indonesia Kepri terpilih, keberadaan Peradah Indonesia Kepri merupakan kesempatan untuk melakukan pelayanan yang lebih luas untuk memajukan provinsi Kepri.  “Hal ini sejalan dengan visi, misi dan tujuan Peradah Indonesia,” jelasnya.</p>
<p>Hadir dalam acara pelantikan kepengurusan antara lain Walikota Batam, Gubernur Kepri, Otorita Batam, Pembimas Hindu Kepri, Parisada Kepri, WHDI Kepri, dan undangan serta tokoh umat Hindu di Kepri. Sedangkan dari DPN hadir Komang Adi Setiawan, IK Guna Artha, Wayan Sudane, Abhisek Kumar, Astri Anggraeni, dan Ketua Peradah Indonesia Sumatera Utara Indra Gunawan, didampangi Kawida.</p>
<p>Dalam sambutannya, Walikota Batam yang diwakili Assisten Ekonomi dan Pembangunan, Syamsul Bahrum menyambut baik dibentuknya Peradah Indonesia. Terlebih Kepri sebagai daerah strategis yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan oleh para pemuda.</p>
<p>Sedangkan Komang Adi Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia berharap dengan dibentuknya Peradah Indonesia Kepri akan memudahkan jalinan komunikasi dan kerjasama di kawasan ASEAN. “Kepri akan menjadi penghubung dalam melakukan kerjasama luar negeri dengan negara terdekat seperti Malaysia dan Singapore,” jelasnya.</p>
<p>Dalam rangkaian acara pelantikan tersebut dilakukan juga aksi penanaman pohon sebagai wujud Peradah Go Green, yang merupakan bentuk kepedulian Peradah Indonesia terhadap isu lingkungan yang sedang berkembang seperti climate change dan global warming. Setelah pelantikan dan penanaman pohon di area Pura, acara dilanjutkan dengan pembekalan kepada pengurus yang berisi pemantapan dan arahan terhadap program-program yang harus dilakukan.</p>
<p><strong>Meeting SEA HYC &#8211; Singapore</strong><br />
Setelah acara pelantikan, keesokan harinya (29/5) dimanfaatkan untuk berkunjung ke kantor The Hindu Centre Singapore dalam rangka koordinasi dan pemantapan South East Asia Hindu Youth Council (SEA HYC) yang mengambil tempat di Singapore. Acara ini dihadiri oleh rombongan DPN Peradah Indonesia, DPP Peradah Indonesia Sumatera Utara, dan DPP Peradah Indonesia Kepri, President SEA HYC KS Arsana, Secretary General SEA HYC sekaligus President Malaysian Hindu Youth Council (MHYC) K Rasa Selvan.</p>
<p>M Gurunathan President The Hindu Centre Singapore menyambut baik kunjungan SEA HYC, Peradah Indonesia, dan MHYC sebagai bentuk kerjasama yang harus diperkuat lagi setelah  terjadi kevakuman selama ini. Dalam kesempatan itu, pihak The Hindu Centre Singapore menyampaikan program-program terkait dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan The Hindu Centre Singapore.</p>
<p>Diskusi cukup hangat, pasalnya banyak kegiatan-kegiatan yang bisa disinkronkan. Bahkan untuk menindaklanjuti program-program yang dilakukan The Hindu Centre Singapore, Wayan Catra Yasa berharap kedepan dapat dilakukan pertukaran/ sharing anak-anak pasraman Batam dan The Hindu Centre Singapore.</p>
<p>Pembicaraan yang berlangsung selanjutnya adalah mengenai SEA HYC, serta penjelasan General Asembly yang telah dilaksanakan pada tanggal 23 &#8211; 25 April 2010 di Port Dickson, Malaysia. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan malam dan ramah tamah.<br />
# Majalah Raditya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/05/29/pembentukan-peradah-indonesia-kepulauan-riau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinergi Peradah Indonesia di Kawasan ASEAN</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 11:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 23-25 April 2010, telah sukses diselenggarakan ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) General Assembly (Kongres). Acara ini berlangsung di Hotel Seri Malaysia Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Jarak Port Dickson dari Kuala Lumpur sekitar 150 Km. Port Dickson terkenal sebagai area pariwisata utama di Malaysia dengan pantainya yang cukup indah. AHYC General Assembly kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 23-25 April 2010, telah sukses diselenggarakan ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) <em>General Assembly</em> (Kongres). Acara ini berlangsung di Hotel Seri Malaysia Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Jarak Port Dickson dari Kuala Lumpur sekitar 150 Km. Port Dickson terkenal sebagai area pariwisata utama di Malaysia dengan pantainya yang cukup indah.</p>
<p>AHYC General Assembly kali ini begitu spesial dan bersejarah. Setelah vakum selama 13 (tiga belas) tahun, revitalisasi terhadap organisasi yang dibentuk berdasarkan Deklarasi Prambanan pada tanggal 21 November 1993 berhasil dilaksanakan.</p>
<p>Para peserta terdiri dari para aktivis Peradah Indonesia, dan Malaysian Hindu Youth Council. Ajang ini juga menjadi reuni para pendiri ASEAN Hindu Youth Council. Dari Indonesia hadir Sylvia Ratnawanti Purwanto, pendiri sekaligus mantan Ketua Umum Peradah ke-2, Prof. Nyoman Nurjaya, mantan presiden AHYC ke-1. Dari Malaysia hadir Dato Sithambaram, mantan presiden AHYC ke-2. <span id="more-145"></span></p>
<p>Singapore selaku pendiri AHYC yang representasinya adalah The Hindu Centre of Singapore dalam kongres ini tidak bisa hadir karena dalam waktu yang bersamaan melaksanakan conference di Singapore. Sebagai dukungan, Mr. Marimutu Gurunathan mengirimkan <em>message</em> untuk acara ini dan mendukung terselenggaranya <em>General Assembly.</em></p>
<p>Setelah mengalami kevakuman selama 13 tahun, AHYC General Assembly  kali ini berhasil melahirkan beberapa keputusan, antara lain:</p>
<ol>
<li>Nama ASEAN Hindu Youth Council (AHYC) berubah menjadi <strong>South East Asia Hindu Youth Council (SEA HYC)</strong>. Pertimbangannya adalah ASEAN bukanlah menunjukkan area geografis seperti ASIA. ASEAN adalah sebuah asosiasi. Perubahan ini disetujui oleh seluruh peserta kongres termasuk para pendiri.</li>
</ol>
<ol>
<li>Struktur organisasi berubah. Fungsi kontrol organisasi anggota SEA HYC diperkuat dengan adanya fungsi Board of Committe. Executive Commitee bertanggung jawab dalam General Assembly  kepada Board of Commitee. Fungsi ini diadakan untuk mencegah adanya kevakuman organisasi SEA HYC.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengurus SEA HYC selama tiga tahun kedepan memiliki tugas utama untuk merevitalisasi organisasi. Menghidupkan <em>network</em> pemuda Hindu seluruh South East Asia. Pengurus untuk tiga tahun kedepan adalah yang memiliki pengalaman dan mengerti sejarah SEA HYC serta siap melakukan regenerasi.</li>
</ol>
<p>Dalam <em>General Assembly</em> ini, diputuskan secara musyawarah untuk memilih KS Arsana (mantan Ketua Umum Peradah 2003 &#8211; 2006) sebagai <em>President</em> SEA HYC dan K Rasa Selvan (<em>President </em>Malaysian Hindu Youth Council) menjadi <em>Secretary General</em>.</p>
<p>Menurut Komang Adi Setiawan, Ketua Umum Peradah Indonesia, SEA HYC merupakan organisasi yang strategis di kawasan ASEAN. &#8221; &#8220;SEA HYC adalah jembatan bagi pemuda Hindu Nusantara untuk menjelajahi pergaulan Internasional,&#8221; jelasnya disela-sela pertemuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/04/26/sinergi-peradah-indonesia-di-kawasan-asean/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekala Bgha dan Paksi Pak</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/01/11/sekala-bgha-dan-paksi-pak/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/01/11/sekala-bgha-dan-paksi-pak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 07:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Membaca ulasan Sdr M. Harya Ramdhoni Julizarsyah di Lampung Post Minggu, 10 Januari 2010, sangat menarik. Terlebih sebuah ulasan terkait dengan Sejarah di Lampung. Berikut tulisan tersebut: SEJAK kapan kerajaan Sekala Bgha muncul? Siapakah pendiri dan raja pertama kerajaan Hindu-Animis tersebut? Itulah beberapa pertanyaan besar yang selalu menggelayuti alam pikir masyarakat Lampung Sai Batin berkaitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca ulasan Sdr M. Harya Ramdhoni Julizarsyah di <a title="Lampung Post" href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010010923001245" target="_blank">Lampung Post </a>Minggu, 10 Januari 2010, sangat menarik. Terlebih sebuah ulasan terkait dengan Sejarah di Lampung. Berikut tulisan tersebut:</p>
<blockquote><p>SEJAK kapan kerajaan Sekala Bgha muncul? Siapakah pendiri dan raja pertama kerajaan Hindu-Animis tersebut? Itulah beberapa pertanyaan besar yang selalu menggelayuti alam pikir masyarakat Lampung Sai Batin berkaitan asal-usul nenek moyang mereka.</p>
<p>Masyarakat Saibatin di daerah-daerah Kenali, Liwa, Batu Bekhak, Kembahang, Lumbok Ranau, Kota Batu, Banding Agung, Krui, Kotaagung hingga Kalianda percaya bahwa muasal mereka berasal dari lereng Gunung Pesagi yang masyhur. Di lereng gunung tertinggi di Lampung itu hidup sebuah suku purba yang bernama suku Tumi. Ahmad Safei, Saibatin Kepaksian Buay Belunguh, Paksi Pak Sekala Bgha, mengatakan suku Tumi kemungkinan berasal dari India yang datang ke wilayah dataran tinggi Lampung Barat beberapa millennium sebelum masehi. Safei menambahkan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India (Ahmad Safei, 1972). <span id="more-120"></span></p>
<p>Berdasarkan Prasasti Bunuk Tenuar yang berangka tahun 9 Margasira 919 Saka atau sekitar tahun 997 Masehi kami meyakini itulah tarikh berdirinya kerajaan Sekala Bgha Hindu. Akan tetapi sejak tahun 2006 pendapat tersebut mulai diragukan ketika kami menemukan catatan mengenai seorang lelaki bernama Taruda yang berasal dari sebuah negeri penghasil kapur barus dan kain bermotif bebungaan dan elang yang terletak di ujung Sumatera di lereng Gunung Pesagi. Taruda merupakan utusan raja Sekala Bgha untuk menjalin persahabatan dengan kekaisaran China. Tarikh purba mencatat bahwa kedatangan Taruda pertama kali ke China adalah pada tahun 441 Masehi. Ia disebutkan membawa bermacam-macam hadiah di antaranya kapur barus yang kala itu merupakan salah satu hasil bumi negeri Sekala Bgha.</p>
<p>Penemuan baru nama Taruda melahirkan dugaan baru tentang asal mula kemunculan kerajaan Sekala Bgha yang telah ada sejak abad ke 5 Masehi. Sementara itu jika mengikuti Tambo Paksi Pak Sekala Bgha nama raja Sekala Bgha yang tercatat di antaranya adalah Sangkan (abad 12 Masehi) Mucca Bawok (abad 12-13 Masehi) dan Sekeghumong (abad 13 Masehi). Keterbatasan catatan dari pihak Sai Batin Paksi Pak memunculkan misteri keterputusan sejarah jurai dalam wangsa Sekala Bgha. Antara tahun 441 Masehi hingga 1200-an Masehi hanya terdapat empat nama raja Sekala Bgha yang berhasil dipastikan yaitu Sri Hardewa (Prasasti Bunuk Tenuar 997 M), Sangkan, Mucca Bawok, dan Sekeghumong (Tambo Paksi Pak Sekala Bgha). Permasalahannya kemudian adalah siapakah nama raja-raja antara tahun 441 Masehi hingga kemunculan Sangkan yang diperkirakan hidup pada abad 12 Masehi?</p>
<p>Pada 2001 rapat adat Paksi Pak Sekala Bgha di Liwa memunculkan sebuah nama, yaitu La Laula sebagai raja pertama kerajaan Sekala Bgha Hindu-Buddha. Pertanyaan baru kemudian muncul: siapakah La Laula? Bagaimana ia bisa menjadi raja pertama Sekala Bgha? Adakah ia merupakan penduduk asli Sekala Bgha dan termasuk ke dalam golongan suku Tumi. Hasil musyawarah Paksi Pak Sekala Bgha cukup mengagetkan karena menurut Paksi Pak La Laula bukanlah penduduk asli Sekala Bgha. Ia bersama sekelompok pengikutnya tiba di Sekala Bgha dari Hindia Belakang (sekitar Vietnam dan Kamboja) pada awal abad Masehi dengan menggunakan kapal kano. La Laula tiba di sebuah negeri yang dipenuhi pohon Sekala di mana di sana telah berdiam suatu entitas masyarakat yang bernama Suku Tumi.</p>
<p>Kedatangan La Laula bersama pengikutnya rupanya mengusik kedamaian yang tercipta selama ini. Suku Tumi merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikut di kalangan masyarakat lokal. Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan suku Tumi dan mendudukkan dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Sekala Bgha.</p>
<p>Nama Sekala Bgha atau Sekala Bekhak atau Sekala Brak memiliki beberapa makna seperti &#8220;Tempat Bersemayam Dewa-Dewi&#8221;, &#8220;Titisan Dewata&#8221;, &#8220;Titisan Mulia&#8221; dan &#8220;Pohon Sekala Raksasa&#8221;. Perihal arti Sekala Bgha masih bisa diperdebatkan dan belum dapat diputuskan manakah di antara keempatnya yang paling benar dan sesuai. Keputusan Paksi Pak mengenai La Laula, Tambo Paksi Pak yang memuat perihal nama beberapa raja Sekala Bgha Hindu dan penelitian kami yang menemukan nama Taruda sedikit banyak mulai menyambung mata rantai terputus dari wangsa purba Sekala Bgha. Teori kami yang menyatakan bahwa suku Tumi adalah keturunan imigrasi bangsa-bangsa purba dari Hindia Belakang pada tahun 2000 SM juga mulai menampakkan kebenarannya.</p>
<p>Hal ini diperkuat beberapa hal. Pertama, keberadaan sisa peradaban batu Neolitikum yang terletak di Pekon Purawiwitan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Tempat penemuan batu-batu purba tersebut telah didiami manusia jauh sebelum abad Masehi. Kedua, aksara Lappung atau Had Lappung yang kita kenal hingga saat ini merupakan bukti yang amat konkret dari betapa purbanya Tamadun Sekala Bgha. Dalam sejarah Tamadun umat manusia, kemunculan aksara terjadi setelah melalui evolusi ribuan tahun. Huruf Mesir kuno ditemukan setelah peradaban tersebut berevolusi selama 3000 tahun. Begitu juga bahasa dan huruf yang ditemukan di pepuing peradaban kota lembah Indus telah ada sejak 2000 tahun SM. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang mustahil bila Had Lappung telah ditemukan oleh nenek moyang bangsa Tumi sejak ribuan tahun yang lalu. Ketiga, hasil musyawarah Paksi Pak pada 2001 yang mengakui La Laula sebagai raja pertama Sekala Bgha sejak awal abad Masehi. Hasil musyawarah tersebut juga membenarkan eksistensi bangsa Tumi yang telah ada sebelum kedatangan La Laula.</p>
<p><strong>Berzuriat Peureulak-Pase atau Pagaruyung?</strong></p>
<p>Para pembesar Paksi Pak saat ini telah menyepakati bahwa Paksi Pak merupakan kerajaan konfederasi yang dipimpin oleh empat bersaudara yaitu Maulana Umpu Pernong (raja pertama Kepaksian Buay Pernong yang berkediaman di Hanibung); Maulana Umpu Belunguh (raja pertama Kepaksian Buay Belunguh yang bermastautin di Tanjung Menang, Kenali); Imam Maulana Umpu Nyekhupa (raja pertama Kepaksian Buay Nyekhupa yang berdiam di Tampak Siring); dan Maulana Umpu Lapah di Way (raja pertama Kepaksian Buay Bejalan di Way yang berkediaman di Puncak Dalom). Kerajaan konfederasi yang kami maksud di sini adalah keempat penguasa ini memiliki wilayah, rakyat, dan kedaulatan masing-masing. Kesadaran akan ingatan kolektif bahwa mereka berasal dari satu bapak yang sama, yaitu Maulana Imam Al Hasyir atau lebih dikenal sebagai Umpu Penggalang Paksi. Mereka mendirikan kerajaan Paksi Pak setelah berjaya menamatkan riwayat kerajaan Hindu-Animisme Sekala Bgha yang dipimpin Ratu Sekeghumong pada peralihan abad 13-14.</p>
<p>Apabila membaca Tambo mengenai asal-usul keempat Paksi apakah Paksi Buay Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Nyekhupa maupun Paksi Buay Bejalan di Way akan didapat kesimpulan yang sama mereka sangat memercayai muasal nenek moyang mereka berasal dari Pagaruyung di Sumatera Barat. Syahdan disebutkan pada 1358 M ketika seorang lelaki setengah baya dan keempat putranya keluar dari Istana Pagaruyung untuk mengembara menyebarkan agama Islam. Konon kejadian itu bertepatan dengan dilepasnya Suttan Nan Selapan ke rantau (daerah luar) Minangkabau dan mulai menghitung nagari-nagari di alam Minangkabau yang berjumlah 667 buah (Ahmad Safei, 1972 : 14). Masalah yang muncul kemudian adalah kenyataan bahwa Minangkabau pada masa itu adalah sebuah kerajaan Hindu Buddha yang didirikan oleh Aditywarman pada tahun 1347. Adityawarman adalah putra dari Mahesa Anabrang, panglima perang Kerajaan Singasari (Ekspedisi Pamalayu I dan Pamalayu II), dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia sebelumnya pernah bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang (Mpu Prapanca, 2006). Adityawarman sendiri adalah sepupu kandung Jayanegara (Raja II Majapahit) karena ibunya bersaudara kandung dengan Dara Petak, ibunda Jayanegara. Pada 1358 yang disebut sebagai permulaan diaspora Suttan Nan Selapan ke rantau justru merupakan masa tatkala Adityawarman masih berada dalam puncak kejayaannya memimpin kerajaan Hindu-Buddha Pagaruyung. Dongeng kanak-kanak yang dipegang-teguh oleh para pembesar Paksi Pak akhirnya harus digugurkan oleh kenyataan di lapangan. Lalu dari manakah muasal Maulana Imam Al Hasyir dan keempat putranya?</p>
<p>Menurut Mohd. Abdullah Syukri dari Institut ATMA-UKM proses penyebaran Islam di Sumatera telah dilakukan sejak kemunculan kerajaan Islam Peureulak yang berdiri pada tarikh 1 Muharram 225 H atau hari Rabu 12 Nopember 839 M. Akan tetapi secara intens dakwah tersebut baru diamalkan sejak tahun-tahun terakhir kekuasaan Sultan Makhdum Alaidin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, 501&#8211;527 H (1108&#8211;1134 M). Selanjutnya pada masa kerajaan Pasai di bawah kekuasaan Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Saleh, serombongan pendakwah dari Kana&#8217;an dan Negeri Syam tiba di kerajaan tersebut. Apabila mereka menemukan ternyata di wilayah Pasai dan Peureulak raja dan masyarakatnya telah memeluk Islam kelompok pendakwah ini meninggalkan kerajaan tersebut dan bertualang menuju selatan guna menyebarkan agama Islam kepada mayoritas penduduk Sumatera yang masih menyembah berhala. Salah satu ekspedisi dakwah tersebut adalah yang kemudian dikenal sebagai Empat Paksi yang datang ke tanah Sekala Bgha guna menyebarkan agama Islam dan berakhir dengan kejatuhan kerajaan Hindu-Animisme tersebut.</p>
<p>Beberapa argumentasi sederhana memperkuat dugaan muasal Maulana Bersaudara yang diperkirakan berasal dari Pasai: Pertama, dalam tradisi peperangan Islam terdapat beberapa &#8220;ritual&#8221; yang harus dilakukan setelah tentara Islam berhasil menaklukkan sebuah wilayah kafir.</p>
<p>1. Pihak yang kalah menghidangkan makanan kepada tentara muslim yang menang dengan tradisi mereka. Ritual ini bisa kita saksikan hingga sekarang dengan tradisi Pahar yang masih dilakukan dalam acara-acara adat Kesaibatinan Paksi Pak Sekala Bgha.</p>
<p>2. Tentara kafir menyatakan tanda takluknya dengan menyerahkan seorang gadis bangsawan untuk diislamkan dan dinikahi oleh pimpinan tentara muslim. Hal ini terbukti dengan perkawinan Maulana Belunguh dengan Umpu Sindi putri Ratu Sekeghumong yang dikalahkan oleh Maulana Bersaudara.</p>
<p>3. Kaum muslimin yang memenangkan pertempuran menyerahkan Bendera Syahadat (Al Liwa) kepada pihak kaum kafir tertakluk. Di bekas kerajaan Sekala Bgha Paksi Pak bukan hanya menyerahkan bendera kepada sisa-sisa bangsa Tumi yang terpaksa masuk Islam, akan tetapi juga mengubah nama ibu negeri Bunuk Tenuar menjadi Al Liwa atau Liwa sepertimana yang masih digunakan hingga saat ini.</p>
<p>Kedua, Awan Gemisikh, salah satu perangkat adat Sai Batin yang masih bertahan hingga kini merupakan hasil akulturasi budaya peperangan Islam dari jazirah Arab (Kana&#8217;an dan Syam) yang terinternalisasi di dalam adat Lampung Sai Batin melalui perantaraan kaum ekspeditor muslimin dari Samudera Pasai. Dari beberapa buku yang kami baca mengenai perang Sabil antara kaum muslimin melawan kaum nasrani, terdapat gambar Salahuddin Al Ayubi atau Saladin menerima penyerahan Yerusalem dari kaum Nasrani di bawah sebuah tenda yang amat mirip dengan Awan Gemisikih. Sebuah fakta baru mestinya mulai diungkap oleh mereka yang peduli dengan sejarah Lampung tentang Awan Gemisikh yang kini hanya digunakan sebagai alat lapah Sai Batin tanpa memahami makna yang sebenarnya.</p>
<p>Ketiga, cara masuknya Islam di bumi Sekala Bgha dengan peperangan yang dilakukan Maulana Bersaudara melawan Sekeghumong merupakan khas penyiar Islam dari jazirah Arab seperti Kana&#8217;an dan Negeri Syam. Gaya dakwah seperti itu bukanlah tipe syiar Islam yang bisa kita temui di Jawa melalui Sembilan Wali. Apabila diperbandingkan secara historis penyebaran Islam di Jawa lebih menggunakan jalan damai yang juga merupakan tipikal pedagang muslimin dari Gujarat. Penyebaran Islam versi jalan damai senantiasa menghormati kebudayaan lama masyarakat setempat dengan cara sinkretisme budaya Islam-Hindu-Buddha yang masih kental nuansanya hingga saat ini terutama di wilayah-wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sembilan Wali juga membiarkan keberadaan tamadun Hindu Budha seperti Borobudur dan Prambanan. Sementara di tanah Sekala Bgha, Islam tiba dengan jalan perang yang mengedepankan pertumpahan darah. Selain itu budaya lokal diberantas habis sebagai khurafat, syirik dan bidah. Salah seorang Pangeran Paksi Pak yang kami wawancarai mengatakan bahwa pada masa awal Paksi Pak semua bangunan pemujaan wangsa Sekala Bgha dihancurkan tak bersisa. Hal ini menguatkan dugaan Islam tiba melalui Maulana Bersaudara atau Paksi Pak dengan menggunakan jalan perang sepertimana penyebaran Islam yang diamalkan sebagian besar pendakwah-pendakwah Islam dari jazirah Arab.</p>
<p><strong>M. Harya Ramdhoni Julizarsyah</strong>, staf pengajar FISIP Unila, kandidat Ph.D. Sains Politik, Universiti Kebangsaan Malaysia</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/01/11/sekala-bgha-dan-paksi-pak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cangkuang; Kami Pun Tak Melupakan</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/01/01/cangkuang-kami-pun-tak-melupakan/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/01/01/cangkuang-kami-pun-tak-melupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 06:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Hembusan angin dan panorama  pagi itu (27/12) mengantarkan alam pikiran kita akan keindahan bumi Nusantara ini. Jalanan yang diapit oleh sawah dan semak-semak ditambah dengan birunya perbukitan menggiring kesejukan hati untuk tulus dan berbhakti. Tak lama melintasi pemandangan itu, kami pun tiba pada tujuan. Cangkuang. Ya, Cangkuang adalah nama  desa yang ada di kecamatan Leles, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hembusan angin dan panorama  pagi itu (27/12) mengantarkan alam pikiran kita akan keindahan bumi Nusantara ini. Jalanan yang diapit oleh sawah dan semak-semak ditambah dengan birunya perbukitan menggiring kesejukan hati untuk tulus dan berbhakti.</p>
<p>Tak lama melintasi pemandangan itu, kami pun tiba pada tujuan. Cangkuang. Ya, Cangkuang adalah nama  desa yang ada di kecamatan Leles, kabupaten Garut, Jawa Barat.  Didesa inilah terdapat sebuah Candi, tepatnya di sebuah pulau kecil yang bentuknya memanjang dari barat ke timur dengan luas 16,5 ha.<span id="more-114"></span></p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="kika: Komang Adi Setiawan, Wayan Sudane" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs151.snc3/17851_256766890420_691725420_4845173_4375355_n.jpg" alt="kika: Komang Adi Setiawan, Wayan Sudane" width="453" height="604" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Mengutip  id.wikipedia.org, Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan Vorderman (terbit tahun 1893) mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arif Muhammad di Leles. Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Dengan tempat yang berada ditengah danau Cangkuang, Candi ini memiliki nilai dan makna tersendiri bagi para pengunjungnya.</p>
<p>Foto-foto <a href="http://daybydai.multiply.com/photos/album/36/Candi_Cangkuang" target="_blank">klik disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/01/01/cangkuang-kami-pun-tak-melupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
