<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wayan sudane &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://wayansudane.net/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wayansudane.net</link>
	<description>merangkai kata mencari makna...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2010 09:16:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nyepi untuk Ketenangan Negeri</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan melaksanakan brata penyepian. Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan amati geni (tidak menyalakan api), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932.jpg"><img class="size-medium wp-image-131  alignleft" title="Selamat Hari Raya Nyepi 1932" src="http://wayansudane.net/wp-content/uploads/2010/03/Selamat-Hari-Raya-Nyepi-1932-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a><strong>Pekan</strong> ini umat Hindu Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru  Saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut  perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Nyepi  jatuh pada 16 Maret 2010. Pada hari tersebut umat Hindu akan  melaksanakan brata penyepian.</p>
<p>Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan <em>amati geni</em> (tidak  menyalakan api),<em> amati karya</em> (tidak bekerja), <em>amati lelungaan</em> (tidak  bepergian), dan <em>amati lelanguan</em> (tidak berfoya-foya/tanpa hiburan).</p>
<p>Diharapkan melalui brata penyepian tersebut, umat Hindu dapat  menemukan jati diri untuk melangkah lebih baik lagi pada tahun  berikutnya. Melalui kontemplasi yang penuh makna untuk mencapai  kesadaran diri, umat Hindu berharap terwujudnya kedamaian diri, bangsa,  dan negara.<span id="more-132"></span></p>
<p>Tentu saja kedamaian menjadi harapan setiap umat manusia karena  dengan damai dapat terwujud sinergi untuk saling mengisi dalam aktivitas  apa pun. Berangkat dari kesadaran serta kedamaian dalam diri ini kita  dapat melangkah lebih luas lagi untuk menciptakan kesejahteraan baik  bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p><strong>Kedamaian untuk Negeri</strong></p>
<p>Makna Nyepi tidak saja untuk ketenangan diri, tetapi juga untuk  masyarakat yang lebih luas lagi. Melalui kesadaran diri diharapkan dapat  memberikan dampak bagi pembangunan masyarakat sekitar. Dengan demikian  akumulasi kesadaran dan kedamaian diri memberi dampak bagi pembangunan  negeri.</p>
<p>Tercapainya kedamaian negeri akan mengantarkan kesejahteraan bagi  masyarakat. Akhir-akhir ini kondisi politiklah yang membuat suasana  negeri kian “panas”. Setiap hari masyarakat selalu disuguhkan sajian  media terkait dengan kondisi perpolitikan negeri. Kondisi ini tentu saja  sedikit melupakan kemajuan sektor lainnya seperti ekonomi, budaya,  maupun pertahanan keamanan.</p>
<p>Hasilnya, banyak sektor yang mengalami gangguan, pun pemerintah tentu  saja akan sulit untuk fokus pada program-program promasyarakat. Bila  kondisi ini berlarut-larut akan sangat susah untuk mencapai pembangunan  yang berkelanjutan. Hal ini bisa saja terjadi, sebab masing-masing pihak  hanya berupaya untuk mempertahankan kondisi saat ini saja tanpa melihat  keberlangsungan masa depan. Untuk itu perenungan yang dalam perlu  dilakukan elite bangsa ini untuk melihat dan melangkah bersama memajukan  negeri.</p>
<p><strong>Politik Mendominasi</strong></p>
<p>Beberapa minggu lalu, konstelasi politik nasional menjadi sorotan  tajam terkait dengan kasus Bank Century. Kondisi ini mengantarkan  puncaknya pada rapat paripurna DPR. Tentu saja lobi-lobi politik  dilakukan begitu kencang terkait pilihan-pilihan keputusan yang diambil.  Pun pascaparipurna DPR tersebut masih berlanjut kepada hangatnya  kondisi perpolitikan di Indonesia.</p>
<p>Tentu saja kondisi-kondisi lainnya seolah tidak mendapat perhatian  serius sehingga berpotensi mengalami kemunduran. Bila fokus dan  stabilitas nasional didominasi oleh ramainya politik, dikhawatirkan akan  memengaruhi kondisi perekonomian yang muaranya akan memperbesar jurang  kemiskinan.</p>
<p>Dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang merajut pembangunan  menuju perekonomian yang kuat, sulit rasanya bila tidak dimulai dari  kuatnya perekonomian berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan saat  ini dan masa yang akan datang. Dengan kuatnya perekonomian, negara dan  pemerintah dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada  masyarakat.</p>
<p>Melalui momentum ini sudah saatnya kita bersama-sama membangun  berbagai sektor kehidupan dengan semangat politik kebersamaan untuk  memajukan masyarakat Indonesia. Politik kebersamaan ini mengutamakan  kepentingan bangsa dan negara menuju kesejahteraan masyarakat dalam  bingkai demokrasi dan keadilan sosial.</p>
<p>Rasanya makna Nyepi dalam perenungan dan intropeksi sangat relevan  untuk merajut kebersamaan membangun negeri. Melalui introspeksi diri  sudah saatnya kita bersama-sama berbuat dan bertindak untuk kepentingan  bersama, bukan lagi untuk kekuasaan semata. Keanekaragaman budaya, suku,  agama, dan masih banyak lagi yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan  tali untuk mempererat ikatan kebersamaan. Saatnya<em> tenangkan diri,  membangun negeri, mari Nyepi.</em></p>
<p>Sumber: http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010031700464076</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/03/17/selamat-nyepi-1932/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Investasi CSR</title>
		<link>http://wayansudane.net/2010/03/02/investasi-csr/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2010/03/02/investasi-csr/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 06:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2010/03/02/investasi-csr/</guid>
		<description><![CDATA[Pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) menjadi wacana yang sangat menarik ditengah globalisasi ekonomi. Semakin kompleksnya penerapan CSR, John Elkington mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan triple bottom line pada tahun 1997. John Elkington mengembangkan konsep dalam istilah economic prosperity, environmental quality, dan social justice. Elkington berpandangan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pelaksanaan <em>corporate  social responsibility</em> (CSR) menjadi wacana yang sangat menarik  ditengah globalisasi ekonomi. Semakin kompleksnya penerapan CSR, John  Elkington mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan <em>triple  bottom line</em> pada tahun 1997. John Elkington mengembangkan konsep  dalam istilah <em>economic prosperity, environmental quality</em>, dan <em>social  justice</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Elkington  berpandangan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan  kelangsungan hidupnya, maka perusahaan harus memperhatikan <em>profit,  people, </em>dan <em>planet</em>. Selain mengejar keuntungan <em>(profit),</em> perusahaan juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat <em>(people),</em> dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan <em>(planet).<span id="more-129"></span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Keuntungan  secara ekonomis tidak akan pernah bisa dipisahkan dalam kerangka  pelaksanaan CSR, oleh karena itu tujuan dari penerapan CSR adalah <em>sustainability</em> bagi perusahaan. Bagi perusahaan <em>sustainability</em> dapat dicapai  ketika keuntungan <em>(profit)</em> terus meningkat sehingga dapat  memenuhi berbagai kepentingan <em>stakeholders</em> sehingga konfik di  berbagai sektor dapat dihindari.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir semua  konflik antara perusahaan dan masyarakat dapat ditelusuri dari adanya  perbedaan antara private dan social cost, ataupun persepsi yang berbeda  terhadap keadilan. CSR memegang peranan penting untuk meminimalkan  konflik akibat perbedaan antara <em>private</em> dan <em>social cost</em>.  Kebijakan CSR berdasarkan pada fundamental ekonomi untuk mengantisipasi  konflik sosial antara perusahaan dan masyarakat. Beberapa literatur  menyarankan untuk menghindari atau mengurangi konlik adalah  melalui program CSR.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa  keuntungan dari investasi CSR terkait dengan <em>financial performance</em> dapat dilihat dari sisi: <em>r</em><em>educing risk,  reduced waste, generating brand equity, improved human relations, lower  cost of capital.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2010/03/02/investasi-csr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyepi, Dharma Dana, dan Pemilu</title>
		<link>http://wayansudane.net/2009/03/25/nyepi-dharma-dana-dan-pemilu/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2009/03/25/nyepi-dharma-dana-dan-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 05:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2009/03/27/nyepi-dharma-dana-dan-pemilu/</guid>
		<description><![CDATA[Nyepi adalah momentum bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri. Memperbaiki segala kekurangan untuk melangkah menuju kehidupan yang semakin berkualitas. Nyepi merupakan tahun baru saka sehingga pergantian tahun ini sangat tepat untuk melihat kembali diri sendiri atas segala kelemahan dalam perjalanan kehidupan. Tidak hanya diri sendiri namun juga alam semesta dan hubungan kita kepada Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nyepi </strong>adalah momentum bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri. Memperbaiki segala kekurangan untuk melangkah menuju kehidupan yang semakin berkualitas. Nyepi merupakan tahun baru saka sehingga pergantian tahun ini sangat tepat untuk melihat kembali diri sendiri atas segala kelemahan dalam perjalanan kehidupan. Tidak hanya diri sendiri namun juga alam semesta dan hubungan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pergantian tahun saka ini sekaligus mengingatkan diri sendiri untuk mawas diri menuju hubungan vertikal kepada Tuhan dan hubungan horizontal  kepada sesama yang semakin harmonis. Hubungan vertikal, perlu terus ditingkatkan sebagai bhakti dan sradha kita kepada Tuhan. Hubungan ini merupakan kewajiban kita sebagai umat manusia.<span id="more-83"></span><br />
Begitu juga hubungan horizontal terhadap sesama manusia. Harus diakui bahwa sebagai manusia kita sering melupakan hubungan horizontal ini. Kita tidak lagi peduli terhadap sesama dan bahkan sering acuh terhadap fenomena yang melanda sesama seperti kemiskinan, kebodohan dan berbagai permasalahan lainnya yang tak kunjung usai. Pun hubungan umat manusia dengan alam sekitar, seolah semakin jauh dari harmonis.</p>
<p>Ketidakharmonisan hubungan ini disebabkan oleh kesewenangan umat manusia dalam kehidupan yang sering mengeksploitasi secara berlebihan alam sekitar bahkan terhadap sesama. Hasilnya kehidupan semakin ‘panas’ dan kedamaian pun menjauh dari diri dan lingkungan kita.</p>
<p>Kemiskinan misalnya, sering memberikan dampak pada aspek kehidupan lainnya. Bahkan kemiskinan material sering berdampak pada kemiskinan bhakti dan sradha umat manusia. Penyebabnya tidak terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan.</p>
<p>Dalam konteks kepedulian terhadap sesama ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (Parisada) sebagai majelis tertinggi umat Hindu telah menetapkan gerakan untuk peduli sesama melalui Dharma Dana yang dilakukan oleh Badan Dharma Dana Nasional. Gerakan ini mencoba menjawab berbagai permasalahan melalui penghimpunan dana umat Hindu yang kemudian disalurkan kembali oleh Parisada.</p>
<p>Diharapkan kedepannya program Dharma Dana ini bisa membantu sesama umat manusia melalui berbagai program yang terarah seperti beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program-program tersebut tentu sangat selaras dengan pembangunan yang dilakukan berbagai kalangan termasuk pemerintah untuk terus membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.<br />
<strong><br />
Pemilu</strong></p>
<p>Momentum yang bersamaan antara Nyepi dan pemilihan umum (pemilu) legislatif yang akan dilaksanakan ini tentu memiliki sebuah semangat yang sama. Nyepi sebagai momentum mawas diri untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia. Sedangkan pemilu merupakan ajang untuk melakukan proses perubahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan harapan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Proses pemilu ini pun ajang introspeksi bagi bangsa Indonesia, sudah sejauh mana kehidupan bernegara masyarakat dicapai seperti kedewasaan berdemokrasi, kesejahteraan masyarakat, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Tentu momentum pemilu ini sebagai wahana menuju perbaikan-perbaikan kedepannya.</p>
<p>Melalui pemilu yang demokratis kita semua berharap ada perbaikan dalam kualitas kepemimpinan baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Untuk itu pemilu merupakan proses perubahan untuk mencari sosok-sosok pemimpin yang akan mengarahkan warga negara menuju kehidupan yang sejahtera.</p>
<p>Perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini tentu tergantung pula dari sosok pemimpin dan pengambil kebijakan di pemerintahan. Di dalam agama Hindu, setidaknya ada delapan acuan yang patut dikuasai dalam kepemimpinan. Delapan ajaran tersebut dikenal dengan asta brata, yaitu: Indra Brata,  seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya. Yama Brata,  pemimpin hendaknya berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.</p>
<p>Surya Brata,  pemimpin hendaknya memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi. Candra Brata, pemimpin hendaknya mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kebodohan. Vayu Brata,  pemimpin hendaknya senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah.</p>
<p>Bhumi, pemimpin hendaknya menjadi landasan berpijak untuk kesejahteraan masyarakatnya. Varuna Brata, pemimpin hendaknya memiliki wawasan yang luas. Agni Brata, pemimpin hendaknya mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.</p>
<p>Setidaknya delapan sifat kepemimpinan tersebut bisa menjadi acuan kita untuk memilih dan memilah pemimpin menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga momentum ini bisa kita manfaatkan untuk introspeksi bagi diri sendiri, bangsa dan negara untuk terus menata kembali kehidupan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2009/03/25/nyepi-dharma-dana-dan-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Politik Umat Hindu</title>
		<link>http://wayansudane.net/2009/01/09/seperti-apa-pendidikan-politik-umat-hindu/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2009/01/09/seperti-apa-pendidikan-politik-umat-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 09:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2009/01/09/seperti-apa-pendidikan-politik-umat-hindu/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti kita saksikan diberbagai media baik cetak maupun elektronik, banyak pakar dan elit politik menyampaikan bahwa tahun 2009,  akan diriuhkan dengan berbagai agenda politik dalam ajang pemilihan umum (pemilu) legislatif (DPR, DPRD, DPD) yang disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Tak heran lantas banyak kalangan menyebut tahun 2009 ini sebagai tahun politik. Tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seperti</strong> kita saksikan diberbagai media baik cetak maupun elektronik, banyak pakar dan elit politik menyampaikan bahwa tahun 2009,  akan diriuhkan dengan berbagai agenda politik dalam ajang pemilihan umum (pemilu) legislatif (DPR, DPRD, DPD) yang disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Tak heran lantas banyak kalangan menyebut tahun 2009 ini sebagai tahun politik. Tahun dimana akan terjadi integrasi antara berbagai kepentingan baik kelompok maupun kepentingan bangsa dan negara.</p>
<p>Kita pun selalu disajikan dengan berbagai adegan politik melalui berbagai keputusan yang fenomenal ditengah mepetnya waktu penyelenggaraan pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi. Misalnya saja keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materi pasal 214 UU No 10 Tahun 2008 tentang pemilu. Hasilnya penetapan anggota legislatif untuk Pemilu 2009 akan ditentukan dengan sistem suara terbanyak.</p>
<p>Keputusan itu tentu dapat mendorong proses demokrasi yang substansi ditengah banyaknya keraguan kepada partai politik. Sang calon legislatif (caleg) pun didorong bekerja lebih giat untuk memperoleh suara dari pemilih. Sebuah proses demokrasi yang mulai terbuka ditengah pendidikan politik yang belum begitu baik. Kalau ini dapat berjalan baik, artinya para elit partai dapat menerima dengan lapang dada dan melaksanakan keputusan ini dengan bijak, politik di tanah air ini dapat dicapai dengan baik pula.  <span id="more-81"></span></p>
<p><strong>Pendidikan Politik </strong><br />
Tak dipungkiri proses demokrasi ini membawa dampak yang lumayan banyak bagi proses kehidupan bernegara umat Hindu. Proses ini tentu sebuah kewajiban dharma negara umat dalam mengawal proses kenegaraan yang diyakini tak lepas dari tuntutan politik. Artinya, kepentingan umat Hindu nasional dapat diperjuangkan melalui jalur-jalur politik. Untuk itu infrastruktur dan penguasaan beberapa elemen strategis sangat penting, salah satunya adalah legislatif baik kabupaten/ kota, provinsi, hingga nasional. Untuk itu semakin banyak umat Hindu menduduki posisi-posisi legislatif tersebut, tentu akan semakin baik pula kepentingan umat Hindu ter-aspirasikan di pemerintahan.</p>
<p>Masalahnya kemudian adalah pada proses pencapaian posisi legislatif yaitu untuk menduduki kursi dewan perwakilan rakyat (DPR). Politisi Hindu yang mencalonkan diri dibeberapa daerah dari berbagai partai politik tentu tidak lepas dari harapan kepada umat Hindu itu sendiri sebagai pemilihnya. Disinilah pendidikan politik  dan kedewasaan  politik umat Hindu diperlukan. Artinya juga harus ada koordinasi dan paradigma yang baik sehingga tidak terjadi eksploitasi kepentingan baik bagi sang calon maupun umat sebagai pemilih.</p>
<p>Dalam UU No. 2 tahun 2008 tentang partai politik dijelaskan bahwa pendidikan politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nah, dari definisi itu dapat kita tangkap bahwa harus ada sebuah pemahaman antara pemilih dan yang akan dipilih (caleg) dalam suatu visi yang sama.</p>
<p>Dari kesemuanya itu, adakah sebuah proses pendidikan yang sudah dilakukan sang calon ? atau hanya sebuah retorika pencitraan yang melupakan proses pendidikan politik.</p>
<p>Beberapa hal yang harus dicermati adalah track record dari sang calon, yang tentu terkait dengan latar belakangnya. Tak sedikit juga para calon yang selalu mengumbar janji dalam komunikasi politik yang dilakukan. Ada keselarasan antara pendidikan politik yang belum baik ditutupi dengan kemasan kampanye super baik sehingga tertanam (positioning) citra produk politik yang baik.</p>
<p>Dengan ramainya hiruk pikuk pasar politik saat ini, sungguh sangat sulit membedakan antara kampanye politik dan kampanye pemilu. Menurut Firmanzah dalam bukunya Marketing Politik, antara pemahaman dan realitas, menjelaskan harus ada redefinisi kampanye. kedua hal ini memiliki perspektif yang berbeda. Misalnya dari dari tujuannya, kampanye pemilu cenderung menggiring pemilih ke blik suara, sedangkan kampanye politik lebih menitik beratkan pada image politik. Begitu juga dari strategi yang dilakukan, kampanye pemilu untuk melakukan mobilisasi dan berburu pendukung (push-marketing), sedangkan kampanye politik untuk membangun dan membentuk reputasi politik (pull-marketing). Nah, tentu kampanye politik memerlukan waktu yang cukup panjang, sedangkan kampanye pemilu cenderung jangka pendek, sesuai kebutuhan. Dari sinilah dapat dibaca track record sang calon legislatif maupun partai politik mengingat setiap aktivitas partai politik selalu menjadi perhatian masyarakat.</p>
<p>Masyarakat tentu dapat dengan cermat memperhatikannya, agar suara tidak sia-sia begitu saja. Sebuah ikatan relasional akan terbangun bila sang calon menyadari arti pentingnya politik dan konstituen yang ia wakili. Memberikan konstribusi bagi pembangunan umat Hindu melalui pola keterwakilan dalam pemerintahan.</p>
<p>Kondisi ideal ini sangat sulit dicapai karena berbagai hal, salah satunya adalah masih lemahnya infrastruktur umat Hindu. Salah satu indikatornya adalah dapat dilihat dari organisasi massa berbasis Hindu. Prajaniti Indonesia yang memang didedikasikan untuk mengakomodir kepentingan dan perjuangan politik umat Hindu  tidak dapat berjalan dengan baik. Sementara organisasi lainnya memiliki fokus dan ladang garapan yang berbeda seperti Peradah Indonesia, lebih fokus pada pembinaan para pemuda, KMHDI lebih fokus pada kaderisasi para kader mahasiswa. Pun WHDI yang menaungi kegiatan wanita Hindu Indonesia.</p>
<p>Al hasil Parisada, sebagai majelis tertinggi terkadang tak luput harus mengakomodir dan melakukan ‘regulator’ berbagai kepentingan politik umat. Dalam arti Parisada pun harus menampung berbagai keluhan politik umat, belum lagi masalah pembinaan umat. Akhirnya majelis kita memikul beban masalah yang begitu berat. Selanjutnya patut juga dipertanyakan, kemana Prajaniti Indonesia yang seharusnya dapat lebih maksimal berperan sebagai ‘regulator’ perjuangan dan kepentingan politik umat Hindu ?</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa komunikasi politik umat Hindu menjelang pemilihan umum 2009 ? Adakah yang berperan sebagai ‘regulator’ untuk mewadahi aspirasi umat Hindu dalam perjuangan kepentingan umat Hindu di tanah air ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2009/01/09/seperti-apa-pendidikan-politik-umat-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ormas Hindu, Semangatmu Redup!</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/11/21/ormas-hindu-semangatmu-redup/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/11/21/ormas-hindu-semangatmu-redup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Omong-Kosong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2008/11/21/ormas-hindu-semangatmu-redup/</guid>
		<description><![CDATA[“Tahun 2008 akan segera ditinggalkan. Kita akan memasuki tahun 2009, tahun dimana banyak orang menyebutnya sebagai tahun politik. Karena tahun ini akan diselenggarakan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden. Tak heran dari sekarang sudah banyak organisasi-organisasi ataupun orang-orang mulai ramai membicarakan politik.” ujar Putu dipagi hari. “Hal ini wajar karena eforia masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Tahun 2008 akan segera ditinggalkan. Kita akan memasuki tahun 2009, tahun dimana banyak orang menyebutnya sebagai tahun politik. Karena tahun ini akan diselenggarakan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden. Tak heran dari sekarang sudah banyak organisasi-organisasi ataupun orang-orang mulai ramai membicarakan politik.” ujar Putu dipagi hari.</p>
<p>“Hal ini wajar karena eforia masyarakat akan terbawa oleh situasi dan hiruk pikuk ini. Masyarakat memulai acang-acang hingga gerak bawah tanah sudah dilakukan. Ada yang masih malu-malu, ada yang berambisi, ada yang pasang iklan dulu menghiasi televisi kita. Pokoknya banyaklah cara-cara yang digunakan untuk pencitraan ini. Mungkin politik pencitraannya sedang diperkuat dengan menampilkan sosok yang sebaik mungkin,” sambut Made.</p>
<p>“Tidak itu saja, yang lebih gencar lagi adalah ‘safari’. Sang kandidat gencar untuk road show ke daerah-daerah guna menggalang dukungan. Berbagai program pun dilakukan. Melihat momen ini sang incumbent pun mulai mencari strategi baru untuk mencitrakan keunggulan program dan pemerintahannya. Ini seru sekali. Belum lagi sang bakal calon presiden dari golongan independen gencar melakukan uji materi undang-undang presiden yang baru disahkan,” ujar Putu. <span id="more-79"></span></p>
<p>“Ada yang menarik, berbagai partai memasang iklan untuk menggaet pemilih. Mulai dari jualan program sampai jualan citra diri atau sosok yang ditokohkan dipartai. Bahkan PKS – Partai Keadilan Sejahtera tidak tanggung-tanggung. Iklan PKS menampilkan tokoh-tokoh dan pahlawan bangsa yang akhirnya menuai banyak kritik karena menampilkan sosok NU dan Muhammadiyah, sampai Soeharto. Belum selesai kontroversi itu, PKS kembali menggelar award yang diberikan kepada tokoh-tokoh muda bangsa. Begitu juga partai lainnya seperti PDIP dan demokrat mulai menghiasi halaman-halaman surat kabar!” papar Made serius.</p>
<p>“Ada baiknya  juga kita melihat peran internal umat Hindu. Walaupun tidak memiliki saluran politik berbasis agama dikancah nasional, suara umat Hindu tidak bisa dianggap enteng. Perlu adanya revitalisasi gerakan dalam mengawal proses demokrasi di Indonesia melalui berbagai saluran politik sebagai implementasi <em>dharma negara</em>,” sambut Putu. “Selama ini kita terlalu apatis membicarakan setiap adanya suksesi kepemimpinan, padahal ini adalah momen penting untuk turut membangun bangsa dan negara.”</p>
<p>“Maksudnya seperti apa?” kejar Made.</p>
<p>“Begini, untuk memperjuangkan hak-hak sipil kewarganegaraan tentu kita tidak bisa memperjuangkannya secara individu. Ini sangat lemah sekali. Untuk itu perlu adanya gerakan-gerakan organisasi massa dalam hal ini berbasis Hindu yang memiliki basis hingga akar rumput untuk aktif sebagai saluran aspirasi umat Hindu dikancah nasional. Selama ini ormas Hindu tidak begitu menonjol lantaran masih terbatasnya potensi baik <em>financial </em>maupun sumber daya manusianya,” papar Putu.</p>
<p>“Kalau begitu kita perlu melakukan revitalisasi atau reposisi gerakan ormas berbasis Hindu. Dan tentunya ini tidak terkait karena akan diselenggarakannya pesta demokrasi. Tapi ini rill kebutuhan kita sebagai<em> civil society</em>!” sambut Made. “Kita punya ormas Prajaniti, Peradah, KMHDI, WHDI, dan tentunya majelis tertinggi, Parisada. Namun kenapa saluran aspirasi itu tidak mengalami peningkatan dan percepatan. Kita stagnan! Bahkan sejak dilaksanakannya Pesamuhan Organisasi Hindu tahun 1999 dulu, dimana masing-masing organisasi Hindu melakukan reposisi gerakan dan revitalisasi semangat dimasing-masing internal organisasinya, hingga sekarang belum ada lagi gerakan revitalisasi kembali.”</p>
<p>“Lantas dalam konteks kenegaraan, peran-peran ormas inilah yang harus dioptimalkan. Tidak saja dalam kaderisasi tapi peran-peran vital bisa dicapai. Lantas apa yang harus dilakukan, reposisi gerakan atau revitalisasi gerakan organisasi,” tanya Putu.</p>
<p>“Ini yang sulit, karena masing-masing ormas tadi memiliki karakteristik berbeda,” jawab Made. Tapi secara umum revitalisasi semangat gerakan itu harus dilakukan diinternal organisasi. Jika tidak, kita tidak bisa berharap banyak karena akan terjadi konflik kepentingan. Ya, revitalisasi gerakan ini penting sebagai<em> &#8216;charger&#8217; </em>terhadap semangat yang redup!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/11/21/ormas-hindu-semangatmu-redup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susahkah Memulai Bisnis ?</title>
		<link>http://wayansudane.net/2008/10/15/susahkan-memulai-bisnis/</link>
		<comments>http://wayansudane.net/2008/10/15/susahkan-memulai-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 11:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wayan sudane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lamunan]]></category>
		<category><![CDATA[Manajamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayansudane.net/2008/10/15/susahkan-memulai-bisnis/</guid>
		<description><![CDATA[Memulai bisnis memang susah. Pasalnya membutuhkan mental yang kuat, belum lagi ada pengalaman dan sejuta pikiran lainnya. Butuh uang, bisa jadi. Saatnya mulia sekarang, mungkin juga ini terlintas dipikiran.  Apa yang kita pikirkan sekarang pastinya berbeda dengan yang kita pikirkan tahun lalu ataupun tahun depan. Nah, seperti yang ada dibuku-buku maupun yang disampaikan para motivator [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memulai</strong> bisnis memang susah. Pasalnya membutuhkan mental yang kuat, belum lagi ada pengalaman dan sejuta pikiran lainnya. Butuh uang, bisa jadi. Saatnya mulia sekarang, mungkin juga ini terlintas dipikiran.  Apa yang kita pikirkan sekarang pastinya berbeda dengan yang kita pikirkan tahun lalu ataupun tahun depan. Nah, seperti yang ada dibuku-buku maupun yang disampaikan para motivator bisnis, ada beberapa tips untuk memulai suatu bisnis:</p>
<p><strong>Kerjakan Sesuai Kemampuan</strong><br />
Mengerjakan sesuatu diluar kemampuan tentu hasilnya tak maksimal. Untuk itu kita harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Lantas bentuk bisnisnya apa yang cocok untuk kita, apakah offline atau online. Begitu juga dengan perencanaan dan penelitiannya, pengembangan, pemasaran dan sebagainya akan mengeluarkan banyak biaya. Untuk itu perlu adanya ukuran kemampuan diri sendiri sebelum jauh melangkah memulai suatu bisnis.  <span id="more-76"></span><strong>Pro Bisnis</strong><br />
Untuk memulai bisnis, tentu kita harus membiasakan memiliki talenta bisnis.  Akan susah bisa kita belum terbiasa dengan gaya pebisnis. Tentu ini dapat dipelajari sembari mempersiapkan rencana-rencana bisnis.</p>
<p><strong>Pemimpi</strong><br />
Tak salah bila kita menjadi pemimpi. Pasalnya kebanyakan orang sukses juga memulainya dari impian. Karena dari sana pasti akan muncul ide-ide kreatif untuk memulai entrepreneur.</p>
<p><strong>Realistis</strong><br />
Ya, kita harus realistis untuk memulai suatu bisnis. Jangan melebihi kemampuan diri baik pengalaman maupun dana. Pelan-pelan akan tercapai dengan pengalaman dan kemampuan manajerial bisnis yang ada.</p>
<p><em><strong>Go for It</strong></em><br />
Nah ini yang paling penting. Sejuta rencana tanpa dikerjakan akan percuma. Segala analisis dilakukan tanpa adanya uji coba akan sia-sia. Untuk itu harus segera dimulai.</p>
<p>Tampaknya memang membutuhkan mental dan strategi untuk memulai bisnis ya, bagaimana menurut Anda….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayansudane.net/2008/10/15/susahkan-memulai-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
