• Om Swastyastu,..
    selamat datang diweblog saya. Semoga memberikan inspirasi untuk relung hati. Tentu untuk memaknai hidup yang tak kan pernah sepi. Karena selalu ada diskusi maupun argumentasi. Semoga damai selalu...

    jangan-asal-copy-paste.gif

    Manusia Hidup di dunia harus seperti daun teratai, ia tumbuh didalam air, tetapi tidak pernah dibasahi oleh air; begitulah seharusnya orang hidup di dunia - hatinya menghadap ke-Tuhan, tangannya menghadap pada pekerjaan.



  • copy paste kode banner saya:

wayan sudane

merangkai kata mencari makna…

Jembatan Selat Sunda

Jembatan ini rencananya akan dibangun di Selat Sunda yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Sumatera. Rencana pembangunan jembatan antarpulau terpanjang di dunia ini akan menelan dana Rp 117 triliun. Rhenald Kasali, seorang pakar manajemen, mengulasnya di Kompas hari ini:

“Landmark” Jembatan Selat Sunda
Senin, 30 November 2009 | 02:54 WIB

Sekitar tiga tahun lalu, saya diundang Prof Wiratman Wangsadilaga, konsultan konstruksi andalan Indonesia. Dalam pertemuan itu, Prof Wiratman menyampaikan angan-angannya membangun Jembatan Selat Sunda.

Serangkaian eksperimen telah dicoba, memerhatikan kelabilan dasar laut, potensi gempa, palung, dan sebagainya. Hari-hari ini kita gembira, gagasan itu dimasukkan dalam program pemerintah.

Kalau tak ada Kiamat 2012, maka 10 tahun setelah itu dunia dapat menyaksikan jembatan antarpulau terpanjang di dunia (29 kilometer) yang menimbulkan dampak perekonomian besar bagi Indonesia. Saya berharap Tuhan memberikan umur panjang kepada Prof Wiratman agar ia bisa menyaksikan persembahan terindahnya bagi negeri ini.

”Landmark” Indonesia

Indonesia yang kaya tidak bisa sejahtera semata dengan konsep ekonomi warisan. Menghabiskan warisan alam (batu bara, emas, timah, dan migas) atau menjual wisata warisan (candi, tarian, kesenian, pantai, dan gunung berapi) tidaklah cukup untuk memasarkan Indonesia.

Indonesia harus mempunyai landmark baru yang menarik perhatian dunia, mendorong percaya diri, dan mengubah persepsi dunia. Generasi ini harus bisa membuktikan kemampuannya mewariskan, bukan sekadar menghabiskan.

Indonesia jelas harus mengubah paradigma pembangunannya dari inherited wealth menjadi created wealth. Sudah bukan zamannya lagi kaya karena ladang-ladang minyak, melainkan menguasai kilang dan teknologi.

Demikian pula pariwisata. Dulu dikenal istilah Seven Wonders of the World, apakah itu warisan sejarah (Taman Babylon, Colloseum, Tembok China, dan Borobudur), atau natural wonders (Niagara dan Grand Canyon).

Kini dikenal Seven Wonders of Modern World yang memasukkan Empire State of New York, Golden Gate Bridge, Jembatan Akashi Kaikyo (Jepang), Messina Bridge (Italia), dan Hotel Burj al-Arab.

Mereka menyebutnya landmark daripada sekadar hotel, jembatan, atau gedung biasa. Landmark itu simbol yang menunjukkan keluarnya bangsa dari perangkap ekonomi warisan sehingga tidak dibangun seadanya.

Menara Eiffel dibangun Alexandre Gustave Eiffel (1889) sebagai monumen untuk menyambut kedatangan abad industri. Burj al-Arab (Menara Arab) dibangun di atas laut, dekat Pantai Jumeirah (1994), simbol keberhasilan transformasi. Menara Petronas (1998) juga merupakan simbol modernisasi Malaysia.

Monumen bersejarah itu tentu bukanlah proyek mercu suar buat gagah-gagahan. Di balik semua itu, ada kebutuhan ekonomi. Jembatan Selat Sunda sepanjang 29 kilometer menyambung selat yang ramai dilewati kapal-kapal induk dan kapal selam dan berada dalam pengawasan Organisasi Maritim Internasional. Menghubungkan 180 juta penduduk dari pulau terpadat Indonesia.

Setiap tahun, 30 juta orang, 2 juta kendaraan, dan 20 juta ton batu bara menyeberangi Selat Sunda. Selain itu, Lampung menghasilkan 40 persen konsumsi gula nasional.

Belum lagi hasil hutan dan perkebunan lainnya. Saya bayangkan di tengah-tengah jembatan, ada area wisata yang memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan alam, sejarah pembuatan jembatan, program edukasi, dan sebagainya, seperti yang terjadi di sudut Golden Gate San Francisco yang pada musim tertentu menjadi kawasan pemancingan kepiting besar.

Selain menjadi pelacongan yang ramai, Golden Gate Bridge terbukti mampu menjadikan Lembah Napa kawasan pembuat wine yang kompetitif, mengungguli Perancis.

Ketidakpastian dan risiko

Namun, lazimnya pembangunan landmark berbiaya superbesar (diduga menghabiskan 10 miliar dollar AS) yang dibangun dalam tempo yang panjang (10 tahun), pembangunan Jembatan Selat Sunda pun berisiko tinggi.

Masih banyaknya pekerjaan infrastruktur yang belum tuntas dapat mengaburkan proyek tersebut. Maka, pembiayaan Jembatan Selat Sunda membutuhkan otak-otak cerdas dengan skema yang tidak biasa.

Selain itu, di dunia ini tidak ada national landmark yang dibangun tanpa kepemimpinan yang kuat. Bangsa Romawi saja membutuhkan waktu berabad-abad untuk membangun jembatan yang menghubungkan Sicilia dengan Calabria.

Impian yang digagas Robert Guscard (abad ke-11) baru menjadi kenyataan pada zaman Berlusconi (2009). Menara Eiffel bahkan pernah diprotes seniman-seniman besar, seperti Emile Zola, Charles Garner, dan Alexander Dumas. Bahkan, tahun 1909, menara tersebut hampir dirobohkan. Beruntung ada kebutuhan menjadi antena telegraf, radio, dan kemudian televisi. Baru sekarang orang yakin, Paris tanpa Eiffel ibarat sayuran tanpa garam.

Kepemimpinan kuat juga ada di belakang pembangunan Menara Petronas dan Burj al-Arab. Selain ribut di dalam negeri, secara geopolitis, keramaian Selat Sunda tentu mengundang kekhawatiran penguasa Selat Malaka yang terancam masa depannya.

Kita harus belajar dari kandasnya proyek Industri Pesawat Terbang Nusantara, hancurnya pabrik tekstil Texmaco setelah mencoba membuat truk Perkasa, atau bahkan saat negeri ini tergila-gila mempunyai mobil nasional.

Apa pun alasannya, kesejahteraan perlu diperjuangkan dengan kepemimpinan yang bersih dan berwibawa, bukan sekadar diwacanakan, apalagi cuma untuk ditonton.

Categories: News
Sepertinya hanya Bali dan Jawa yang akan selalu sulit terealisasi untuk dihubungkan dengan jembatan.
30 November 09 at 08:58
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes