Dukung Mendukung
“Bulan ini begitu ramai oleh berbagai dukungan yang katanya untuk sebuah kemajuan,” ungkap Anto. “Bagaikan semut dan gula, ada yang perlu dukungan dan ada yang mau mendukung. Ya, dukung mendukung kini marak dilakukan oleh masyarakat menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang. Adalah sebuah fenomena yang biasa bagi masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi. Sebuah proses keterbukaan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.”
“Selama dukungan dilakukan dalam koridor etika dan menjunjung demokrasi, sah-sah saja,” sambut Amir serius. “Yang menjadi masalah adalah dukungan dilakukan dengan mengabaikan prinsip-prinsip dan etika sebagai bangsa yang beradab. Tidak menutup kemungkinan suasana penuh damai di alam demokrasi ini berubah menjadi persaingan yang tidak lagi menjunjung tinggi etika dan moral bangsa.”
“Hal ini bisa saja terjadi ketika warga lupa akan jati diri bangsa yang penuh martabat dan menjunjung tinggi moral bangsa. Tapi kita memiliki keyakinan akan keberhasilan proses dan pesta demokrasi menuju kemajuan bangsa,” jelas Anto. “Sebagai warga, kita memiliki suatu kewajiban untuk turut mensukseskan pesta sebelum dan sesudahnya. Kenapa ? Salah satunya, momen ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan kita dalam menjalankan demokrasi. Pun citra bangsa yang berbudaya harus diperkuat dengan tahapan-tahapan demokrasi yang santun dan beretika.”
“Hanya itu yang dapat kita lakukan sebagai warga negara, mensukseskan pesta demokrasi! Masalah satu putaran atau dua putaran, itu sangat ditentukan oleh proses dan strategi masing-masing calon untuk menggaet pemilih, warga negara. Yang jelas, kita harus mendukung yang terbaik bagi bangsa ini. Beda pikiran dan pilihan adalah sebuah konsekuensi dari demokrasi,” tandas Amir sembari bergegas pergi.
