• Om Swastyastu,..
    selamat datang diweblog saya. Semoga memberikan inspirasi untuk relung hati. Tentu untuk memaknai hidup yang tak kan pernah sepi. Karena selalu ada diskusi maupun argumentasi. Semoga damai selalu...

    jangan-asal-copy-paste.gif

    Manusia Hidup di dunia harus seperti daun teratai, ia tumbuh didalam air, tetapi tidak pernah dibasahi oleh air; begitulah seharusnya orang hidup di dunia - hatinya menghadap ke-Tuhan, tangannya menghadap pada pekerjaan.



  • copy paste kode banner saya:

wayan sudane

merangkai kata mencari makna…

Nyepi, Dharma Dana, dan Pemilu

Nyepi adalah momentum bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri. Memperbaiki segala kekurangan untuk melangkah menuju kehidupan yang semakin berkualitas. Nyepi merupakan tahun baru saka sehingga pergantian tahun ini sangat tepat untuk melihat kembali diri sendiri atas segala kelemahan dalam perjalanan kehidupan. Tidak hanya diri sendiri namun juga alam semesta dan hubungan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pergantian tahun saka ini sekaligus mengingatkan diri sendiri untuk mawas diri menuju hubungan vertikal kepada Tuhan dan hubungan horizontal  kepada sesama yang semakin harmonis. Hubungan vertikal, perlu terus ditingkatkan sebagai bhakti dan sradha kita kepada Tuhan. Hubungan ini merupakan kewajiban kita sebagai umat manusia.
Begitu juga hubungan horizontal terhadap sesama manusia. Harus diakui bahwa sebagai manusia kita sering melupakan hubungan horizontal ini. Kita tidak lagi peduli terhadap sesama dan bahkan sering acuh terhadap fenomena yang melanda sesama seperti kemiskinan, kebodohan dan berbagai permasalahan lainnya yang tak kunjung usai. Pun hubungan umat manusia dengan alam sekitar, seolah semakin jauh dari harmonis.

Ketidakharmonisan hubungan ini disebabkan oleh kesewenangan umat manusia dalam kehidupan yang sering mengeksploitasi secara berlebihan alam sekitar bahkan terhadap sesama. Hasilnya kehidupan semakin ‘panas’ dan kedamaian pun menjauh dari diri dan lingkungan kita.

Kemiskinan misalnya, sering memberikan dampak pada aspek kehidupan lainnya. Bahkan kemiskinan material sering berdampak pada kemiskinan bhakti dan sradha umat manusia. Penyebabnya tidak terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan.

Dalam konteks kepedulian terhadap sesama ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (Parisada) sebagai majelis tertinggi umat Hindu telah menetapkan gerakan untuk peduli sesama melalui Dharma Dana yang dilakukan oleh Badan Dharma Dana Nasional. Gerakan ini mencoba menjawab berbagai permasalahan melalui penghimpunan dana umat Hindu yang kemudian disalurkan kembali oleh Parisada.

Diharapkan kedepannya program Dharma Dana ini bisa membantu sesama umat manusia melalui berbagai program yang terarah seperti beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program-program tersebut tentu sangat selaras dengan pembangunan yang dilakukan berbagai kalangan termasuk pemerintah untuk terus membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Pemilu

Momentum yang bersamaan antara Nyepi dan pemilihan umum (pemilu) legislatif yang akan dilaksanakan ini tentu memiliki sebuah semangat yang sama. Nyepi sebagai momentum mawas diri untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia. Sedangkan pemilu merupakan ajang untuk melakukan proses perubahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan harapan yang lebih baik lagi.

Proses pemilu ini pun ajang introspeksi bagi bangsa Indonesia, sudah sejauh mana kehidupan bernegara masyarakat dicapai seperti kedewasaan berdemokrasi, kesejahteraan masyarakat, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Tentu momentum pemilu ini sebagai wahana menuju perbaikan-perbaikan kedepannya.

Melalui pemilu yang demokratis kita semua berharap ada perbaikan dalam kualitas kepemimpinan baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Untuk itu pemilu merupakan proses perubahan untuk mencari sosok-sosok pemimpin yang akan mengarahkan warga negara menuju kehidupan yang sejahtera.

Perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini tentu tergantung pula dari sosok pemimpin dan pengambil kebijakan di pemerintahan. Di dalam agama Hindu, setidaknya ada delapan acuan yang patut dikuasai dalam kepemimpinan. Delapan ajaran tersebut dikenal dengan asta brata, yaitu: Indra Brata,  seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya. Yama Brata,  pemimpin hendaknya berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.

Surya Brata,  pemimpin hendaknya memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi. Candra Brata, pemimpin hendaknya mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kebodohan. Vayu Brata,  pemimpin hendaknya senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah.

Bhumi, pemimpin hendaknya menjadi landasan berpijak untuk kesejahteraan masyarakatnya. Varuna Brata, pemimpin hendaknya memiliki wawasan yang luas. Agni Brata, pemimpin hendaknya mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Setidaknya delapan sifat kepemimpinan tersebut bisa menjadi acuan kita untuk memilih dan memilah pemimpin menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga momentum ini bisa kita manfaatkan untuk introspeksi bagi diri sendiri, bangsa dan negara untuk terus menata kembali kehidupan ini.

Categories: Artikel - Hindu
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes