Ormas Hindu, Semangatmu Redup!
Written by wayan sudane // 21 November, 2008 // Hindu, Sketsa // 3 Comments // Visited 449 times, 1 so far today
“Tahun 2008 akan segera ditinggalkan. Kita akan memasuki tahun 2009, tahun dimana banyak orang menyebutnya sebagai tahun politik. Karena tahun ini akan diselenggarakan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden. Tak heran dari sekarang sudah banyak organisasi-organisasi ataupun orang-orang mulai ramai membicarakan politik.” ujar Putu dipagi hari.
“Hal ini wajar karena eforia masyarakat akan terbawa oleh situasi dan hiruk pikuk ini. Masyarakat memulai acang-acang hingga gerak bawah tanah sudah dilakukan. Ada yang masih malu-malu, ada yang berambisi, ada yang pasang iklan dulu menghiasi televisi kita. Pokoknya banyaklah cara-cara yang digunakan untuk pencitraan ini. Mungkin politik pencitraannya sedang diperkuat dengan menampilkan sosok yang sebaik mungkin,” sambut Made.
“Tidak itu saja, yang lebih gencar lagi adalah ‘safari’. Sang kandidat gencar untuk road show ke daerah-daerah guna menggalang dukungan. Berbagai program pun dilakukan. Melihat momen ini sang incumbent pun mulai mencari strategi baru untuk mencitrakan keunggulan program dan pemerintahannya. Ini seru sekali. Belum lagi sang bakal calon presiden dari golongan independen gencar melakukan uji materi undang-undang presiden yang baru disahkan,” ujar Putu.
“Ada yang menarik, berbagai partai memasang iklan untuk menggaet pemilih. Mulai dari jualan program sampai jualan citra diri atau sosok yang ditokohkan dipartai. Bahkan PKS – Partai Keadilan Sejahtera tidak tanggung-tanggung. Iklan PKS menampilkan tokoh-tokoh dan pahlawan bangsa yang akhirnya menuai banyak kritik karena menampilkan sosok NU dan Muhammadiyah, sampai Soeharto. Belum selesai kontroversi itu, PKS kembali menggelar award yang diberikan kepada tokoh-tokoh muda bangsa. Begitu juga partai lainnya seperti PDIP dan demokrat mulai menghiasi halaman-halaman surat kabar!” papar Made serius.
“Ada baiknya juga kita melihat peran internal umat Hindu. Walaupun tidak memiliki saluran politik berbasis agama dikancah nasional, suara umat Hindu tidak bisa dianggap enteng. Perlu adanya revitalisasi gerakan dalam mengawal proses demokrasi di Indonesia melalui berbagai saluran politik sebagai implementasi dharma negara,” sambut Putu. “Selama ini kita terlalu apatis membicarakan setiap adanya suksesi kepemimpinan, padahal ini adalah momen penting untuk turut membangun bangsa dan negara.”
“Maksudnya seperti apa?” kejar Made.
“Begini, untuk memperjuangkan hak-hak sipil kewarganegaraan tentu kita tidak bisa memperjuangkannya secara individu. Ini sangat lemah sekali. Untuk itu perlu adanya gerakan-gerakan organisasi massa dalam hal ini berbasis Hindu yang memiliki basis hingga akar rumput untuk aktif sebagai saluran aspirasi umat Hindu dikancah nasional. Selama ini ormas Hindu tidak begitu menonjol lantaran masih terbatasnya potensi baik financial maupun sumber daya manusianya,” papar Putu.
“Kalau begitu kita perlu melakukan revitalisasi atau reposisi gerakan ormas berbasis Hindu. Dan tentunya ini tidak terkait karena akan diselenggarakannya pesta demokrasi. Tapi ini rill kebutuhan kita sebagai civil society!” sambut Made. “Kita punya ormas Prajaniti, Peradah, KMHDI, WHDI, dan tentunya majelis tertinggi, Parisada. Namun kenapa saluran aspirasi itu tidak mengalami peningkatan dan percepatan. Kita stagnan! Bahkan sejak dilaksanakannya Pesamuhan Organisasi Hindu tahun 1999 dulu, dimana masing-masing organisasi Hindu melakukan reposisi gerakan dan revitalisasi semangat dimasing-masing internal organisasinya, hingga sekarang belum ada lagi gerakan revitalisasi kembali.”
“Lantas dalam konteks kenegaraan, peran-peran ormas inilah yang harus dioptimalkan. Tidak saja dalam kaderisasi tapi peran-peran vital bisa dicapai. Lantas apa yang harus dilakukan, reposisi gerakan atau revitalisasi gerakan organisasi,” tanya Putu.
“Ini yang sulit, karena masing-masing ormas tadi memiliki karakteristik berbeda,” jawab Made. Tapi secara umum revitalisasi semangat gerakan itu harus dilakukan diinternal organisasi. Jika tidak, kita tidak bisa berharap banyak karena akan terjadi konflik kepentingan. Ya, revitalisasi gerakan ini penting sebagai ‘charger’ terhadap semangat yang redup!”





3 Comments on "Ormas Hindu, Semangatmu Redup!"
ayo lebih progresif donkkk
Makannya kita harus lebih aktif supaya bisa menjadi benderang lagi seperti pada jaman hindu dahulu.
Untuk membanggun umat lebih aktif bisa kita lakukan dimuali dari diri kita sendiri.