Pahlawan dan Hari-nya
“Hari ini, 10 November adalah hari pahlawan. Namun sepertinya kita sudah tidak menghiraukan lagi makna dan semangat yang ada,” tutur Gojek kepada sohibnya, Jhon. “Tidak semua masyarakat tahu dan para elit kita juga sudah tidak lagi menyerukan semangat-semangat heroik untuk pembangunan bangsa dan negara,” tambah Gojek.
“Jiwa kepahlawanan para tokoh bangsa kini dirasakan melemah. Perilaku mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan masyarakat mencengkeram para tokoh panutan yang sepatutnya member teladan nilai kepahlawanan,” timpal Jhon sembari membaca Kompas, Senin 10 November. “Ini jelas bisa dilihat dari tokoh bangsa yang sangat sulit sekali untuk dijadikan panutran. Ada yang sudah layak menjadi panutan anak bangsa, koq malah berubah haluan sehingga tak layak lagi jadi panutan,” sambung Jhon.
“Kondisi dan realitas ini adalah cermin dari lunturnya semangat perjuangan kita bersama termasuk generasi hari ini!” sambut Gojek. “Kita gagal menjaga semangat pahlawan dalam berjuang menciptakan pembangunan karakter bangsa. Kita terjebak pada pragmatisme dan kekuasaan belaka. Akhirnya rakyat yang menjadi imbas dari semua kebijakan dan pergulatan bangsa ini.”
“Syukurlah masih ada sisa semangat itu yang dapat dilihat dari adanya pengakuan pemerintah terhadap aktor utama hari pahlawan itu,” terang Jhon. “Pemerintah melalui Departemen Sosial sudah mengeluarkan surat pengakuan kepada Bung Tomo sebagai pahlawan nasional pada 7 November lalu. Bung Tomo adalah sosok yang melakukan perjuangan melawan penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian mengilhami 10 November sebagai hari pahlawan!”
“Lantas apa makna hari pahlawan itu bagi kita, hari ini,” sindir Jek. “Hari ini terlalu banyak pahlawan-pahlawan kesiangan yang seolah membela kepentingan rakyat. Tengok saja iklan-iklan dimedia baik cetak maupun elektronik. Semuanya menggambarkan kepahlawan yang benar-benar heroik. Bahkan ada salah satu partai politik dalam iklannya menampilkan sosok-sosok pahlawan. Jelas tujuannya untuk menggaet simpati rakyat yang tak lain untuk meraup suara pada pemilu 2009 mendatang. Ya, kita dan tokoh bangsa terlalu banyak kepentingan dan melupakan semangat kepahlawanan yang sesungguhnya!” tegas Jek.
“Ya, begitulah nilai-nilai kepahlawanan itu dimaknai. Kita melupakan nilai-nilai yang lahir dari pahlawan itu seperti rela berkorban, cinta tanah air. Akankan ada pahlawan sejati yang diimpikan negeri ini,” ucap Jhon mengakhiri.
