• Om Swastyastu,..
    selamat datang diweblog saya. Semoga memberikan inspirasi untuk relung hati. Tentu untuk memaknai hidup yang tak kan pernah sepi. Karena selalu ada diskusi maupun argumentasi. Semoga damai selalu...

    jangan-asal-copy-paste.gif

    Manusia Hidup di dunia harus seperti daun teratai, ia tumbuh didalam air, tetapi tidak pernah dibasahi oleh air; begitulah seharusnya orang hidup di dunia - hatinya menghadap ke-Tuhan, tangannya menghadap pada pekerjaan.



  • copy paste kode banner saya:

wayan sudane

merangkai kata mencari makna…

Melihat Kampanye Online Pilkada Lampung

Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung kini memberikan warna tersendiri bagi proses demokrasi di Indonesia. Warna itu bisa dilihat dari semakin maraknya calon kandidat yang memperhatikan warga masyarakat. Mulai dari semboyan hingga janji-janji pro kepada warga terus dilontarkan. Begitu juga program-program pro warga tidak ketinggalan membumbui kampanye agar warga simpatik dan kemudian memilihnya.

Semua kalangan warga tak luput dari garapan para tim sukses. Mulai yang di kampung hingga perkotaan, tim sukses pemenangan calon memiliki cara tersendiri. Namun yang biasa dilakukan berupa pemasangan spanduk-spanduk yang berisi foto sang calon dan stiker calon. Tak kalah menariknya adalah akronim dari nama-nama kedua pasangan, misalnya gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati. Ada saja akronim-akronim yang dijual dengan maksud menanamkan ingatan dibenak konsumen yang akan memilih mereka.

Yang menarik akhir-akhir ini dan merupakan kemajuan adalah digarapnya juga sisi dunia maya. Pemanfaatan fasilitas internet sebagai media kampanye online digarap secara serius tak kalah dengan kampanye offline berupa spanduk-spanduk hingga sosialisasi langsung. Melalui media online ini, sang calon menawarkan program-program hingga pemaparan kegiatan-kegiatan kampanye yang tentu saja sangat mudah dipahami oleh target pasar yang notabene kalangan berpendidikan.

Pemaparan program dan janji-janji melalui media online inilah memungkinkan untuk dikritisi dan dijadikan parameter tentang visi misi sang calon. Pasalnya, melalui pemaparan ini disajikan untuk para calon pemilih yang memiliki daya kritisi lebih baik bila dibandingkan dengan segmentasi pemilih tradisional yang berada diperkampungan karena masih terbatas pada akses pendidikan.
***
Coba kita lihat Lampung. Daerah pintu gerbang Sumatera ini akan melaksanakan pemilihan gubernur pada 3 September mendatang. Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung ini cukup istimewa, pasalnya ada tujuh pasang kandidat yang akan bersaing merebut tapuk kepemimpinan di sang bumi ruwa jurai ini. Ketujuh calon tersebut berasal dari partai politik dan dua calon perseorangan.
Lima pasang calon dari partai politik  yaitu Zulkifli Anwar-Akhmadi Sumaryanto (PKS-PAN), Alzier Dianis Thabranie-Bambang Sudibyo (Partai Golkar, PKB, PPP), Oemarsono-Thomas Azis Riska (koalisi partai politik kecil yang menamakan diri Koalisi Lampung Bersatu Peduli Demokrasi dan Pembangunan), Andy Achmad Sampurna Jaya-Suparjo (Partai Demokrat- PBR), dan pasangan Sjachroedin ZP-MS Joko Umar Said (PDI-P dan beberapa partai kecil). Sedangkan dari jalur perseorangan adalah Muhajir Utomo-Andi Arief, dan Sofjan Jacoeb-Bambang Waluyo Utomo.
Jangan heran, kalau di Lampung bertebaran spanduk-spanduk ataupun papan reklame yang bersisi foto-foto para calon kandidat ini. Menariknya, para calon ini juga memanfaatkan media internet berupa website untuk menggalang dukungannya. Ada yang sudah sedari awal mempersiapkannya, ada yang baru sekedar untuk menyaingi lawan.
Saat penulis menelusuri melalui search engine, beberapa situs calon tersebut dapat ditemukan dengan mengetikkan beberapa kata kunci. Dari kebiasaan penulis melakukan uji coba pada situs pemerintah, menemukan situs-situs para calon kandidat di Lampung ini cukuplah sulit. Ini artinya situs-situs milik calon tersebut belum optimal memanfaatkan search engine optimization atau SEO. Artinya sistem back office dari website sebagai media kampanye itu belum tergarap dengan baik sehingga susah ditemukan pada search engine ataupun tidak berada pada halaman pertama, atau kedua situs pencari.
Beberapa situs yang digunakan untuk menggalang dukungan tersebut seperti www.zuldanyantomenjawab.com  milik pasangan Zulkifli Anwar-Akhmadi Sumaryanto. Website ini tampak profesional dengan desain yang menarik. Selain itu, sang wakil juga memanfaatkan blog  akhmadisumaryanto.blogspot.com, tentu efektif untuk menggalang dan mendukung situs www.zuldanyantomenjawab.

Kemudian ada lagi situs www.pilihjiran.com milik pasangan Muhajir Utomo-Andi Arief. Situs ingin memiliki desain yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan milik pasangan Zulkifli – Akhmadi. Conten dari pilihjiran.com juga masih memiliki kelemahan dari beberapa menu yang masih kosong. Ya, sayang sekali tidak tergarap dengan optimal.

Berbeda dengan kedua situs diatas, Alzier Dianis Thabranie memiliki situs pribadi www.bangalzier.com. Walaupun situs pribadi, tidak mengusung nama domain pasangan calon, namun Alzier juga memanfaatkan media ini sebagai ajang kampanye pasangan calon M. Alzier Dianis Thabranie-Bambang Sudibyo.

Tidak jauh dengan Alzier, Andy Achmad Sampurna Jaya yang berpasangan dengan Suparjo menggalang  dukungan melalui situs www.andyachmad.com.  Tentu dari domainnya dapat dilihat bahwa situs ini milik pribadi Andy Achmad. Namun demikian pemanfaatannya juga untuk mengusung pasangan ini.

Yang lebih menarik lagi adalah Pasangan Sjachroedin ZP-MS Joko Umar Said. Dari penelusuran di search engine, pasangan ini melalui calon gubernur, Sjachroedin ZP memanfaatkan beberapa situs dan weblog untuk menggalang dukungan. Situs-situs tersebut seperti www.sjachroedin.com, www.suarabangoedin.com,  sjachroedinzp.wordpress.com. Content-content-nya hampir mirip artinya ketiga situs tersebut saling terkait untuk mendukung penemuan situs lainnya.

Sayangnya, setelah ditelusuri dengan beberapa kata kunci di search engine, penulis tidak menemukan situs-situs milik pasangan Oemarsono-Thomas Azis Riska, dan pasangan Sofjan Jacoeb-Bambang Waluyo Utomo. Sangat sayang sekali karena setengah lebih dari pasangan calon memanfaatkan media online sebagai media kampanye.

Melihat fenomena-fenomena kampanye melalui media online ini, sebuah langkah kemajuan harus telah mewarnai proses demokrasi kita terlepas dari fungsi yang belum optimal dari media-media tersebut. Tapi hal ini harus diakui sebagai sebuah langkah yang baik bagi perkembangan dan dukungan pelaksanaan e-government di Indonesia.
Kemajuan ini dimungkinkan karena semakin banyak pejabat atau individu-individu yang memiliki pengaruh memanfaatkan media online, tentu akan mendukung proses dan kemajuan penggunaan teknologi informasi itu sendiri. Apalagi pemanfaatan website berbasis Web 2.0 dapat lebih dioptimalkan lagi. Filosofinya, Web 2.0 akan mendukung pengunjung untuk interaktif melalui website / weblog tidak sekedar pesan satu arah saja. Artinya akan ada proses timbal balik yang sama-sama mencerdaskan. Lalu bagaimana kelanjutan dari website-website ataupun weblog itu setelah pilkada usai? Masihkan content menyajikan menu-menu hingga program untuk kemajuan bersama, sekedar kritik hingga berita-berita sang tokoh? Ya, ini membutuhkan konsistensi dari sang calon itu kepada warga masyarakatnya.

Categories: Artikel - Lamunan
Zaman sudah maju, media online adalah masa depan.
27 August 08 at 14:14
Tapi, termasuk saya, … masih banyak yang gaptek.
28 August 08 at 15:52
Bagus juga ada kampanye online, semoga tidak over promise under deliver..spt politisi pd umumnya
6 September 08 at 14:33
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes