Revitalisasi Nasionalisme Anak Bangsa

Written by  //  12 August, 2008  //  Artikel  //  2 Comments // Visited 1447 times, 1 so far today

Sejak reformasi tahun 1998, kondisi bangsa dan negara Indonesia memberikan harapan baru. Masyarakat mulai membuka berbagai kran-kran demokrasi, ekonomi, politik, sosial, budaya tanpa adanya kekangan. Hal ini dapat dimaklumi lantaran rezim sebelumnya tidak memberikan kesempatan untuk melakukan ekspresi dan aktualisasi baik dalam politik, ekonomi maupun budaya.

Upaya reformasi disegala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut tentu saja ada sebuah landasan semangat. Nilai nasionalisme dapat kita lihat dari adanya reaksi atas berbagai kekangan dibidang politik, ekonomi, dan budaya. Adanya reaksi tersebut menimbulkan sebuah semangat politik untuk menggantikan dan menghapuskan ’penjajahan’ dan mendirikan bangsa sendiri dengan pemerintahan yang demokratis.

Dampak dari dibukanya kran demokrasi itu adalah terbukanya pasar atau yang lebih dikenal dengan globalisasi. Konsekuensinya akan menimbulkan kapitalisme dan paham ekonomi neo-liberal yang memberikan kebebasan individu dengan campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi.

Adanya pergeseran peran negara tersebut menyebabkan pemerintah tidak memiliki fungsi regulator yang kuat dan  akan tergantung pada mekanisme pasar. Dengan demikian peran negara menjadi berkurang dalam bidang ekonomi sehingga bisa dikatakan perekonomian bangsa tergantung dari mekanisme pasar yang terus digelintirkan oleh kapitalisme global tadi.  Tentunya akan ada diskursus peran negara.

Nasionalisme anak bangsa akan mengalami pergeseran. Beberapa penyebabnya adalah arus globalisasi yang tidak dapat lagi dibendung diberbagai sektor. Ekonomi global dan penguasaan sektor ekonomi dengan peran negara yang berkurang akan mengakibatkan kontrol terhadap warga oleh negara juga berkurang. Nilai-nilai nasionalisme terhadap negara menjadi luntur oleh serangan dan semangat individualistik.

Eksistensi nasionalisme itu patut kita pertanyakan pada masyarakat Indonesia ditengah arus kapitalisme global. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjaga semangat nasionalisme tersebut? Bagaimana mempertahankan daya saing dan keunggulan kompetitif dalam ranah ekonomi, politik, dan budaya? Apa formulasi untuk mempertahankan nasionalisme ?


Fenomena-fenomena yang melemahkan nasionalisme patut kita renungkan. Semangat dan revitalisasi nasionalisme ini menjadi penting dalam mengawal proses demokrasi dalam negara hukum dan untuk mencapai keadilan masyarakat Indonesia. KMHDI sebagai organisasi mahasiswa Hindu tingkat nasional yang berjati diri nasionalis, religius, humanis dan progresif berketetapan hati untuk turut mengawal nasionalisme sebagai wujud dari dharma agama dan dharma negara.

Dalam Weda – Atharwa Weda XII.1.46 juga ditegaskan, Bekerjalah untuk tanah air dan bangsamu dengan berbagai cara. Hormatilah cita-cita bangsamu. Ibu Pertiwi sebagai sumber mengalirnya sungai kemakmuran dengan ratusan cabang. Hormatilah tanah airmu seperti kamu memuja Tuhan. Dari jaman abadi Ibu Pertiwi memberikan kehidupan kepadamu semua, karena itu engkau berhutang kepada-Nya. Untuk itu menjadi penting bagi umat Hindu sebagai bagian dari bangsa Indonesia untuk mencintai tanah air-nya.