wayan sudane

merangkai kata mencari makna

Archive for August, 2008


Melihat Kampanye Online Pilkada Lampung

Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung kini memberikan warna tersendiri bagi proses demokrasi di Indonesia. Warna itu bisa dilihat dari semakin maraknya calon kandidat yang memperhatikan warga masyarakat. Mulai dari semboyan hingga janji-janji pro kepada warga terus dilontarkan. Begitu juga program-program pro warga tidak ketinggalan membumbui kampanye agar warga simpatik dan kemudian memilihnya.

Semua kalangan warga tak luput dari garapan para tim sukses. Mulai yang di kampung hingga perkotaan, tim sukses pemenangan calon memiliki cara tersendiri. Namun yang biasa dilakukan berupa pemasangan spanduk-spanduk yang berisi foto sang calon dan stiker calon. Tak kalah menariknya adalah akronim dari nama-nama kedua pasangan, misalnya gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati. Ada saja akronim-akronim yang dijual dengan maksud menanamkan ingatan dibenak konsumen yang akan memilih mereka.

Yang menarik akhir-akhir ini dan merupakan kemajuan adalah digarapnya juga sisi dunia maya. Pemanfaatan fasilitas internet sebagai media kampanye online digarap secara serius tak kalah dengan kampanye offline berupa spanduk-spanduk hingga sosialisasi langsung. Melalui media online ini, sang calon menawarkan program-program hingga pemaparan kegiatan-kegiatan kampanye yang tentu saja sangat mudah dipahami oleh target pasar yang notabene kalangan berpendidikan. (more…)

Selamat Galungan - ‘Memerdekakan Dharma’

Selamat Galungan dan Kuningan

Galungan kali ini cukup penting untuk dihayati. Hari kemenangan dharma melawan adharma ini hamper bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus lalu. Masih dengan semangat kemerdekaan yang heroik, kita juga merayakan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) hari ini (20/8). Begitulah kira-kira semangat yang ada pada perayaan hari raya Galungan ini.

(more…)

Revitalisasi Nasionalisme Anak Bangsa

Sejak reformasi tahun 1998, kondisi bangsa dan negara Indonesia memberikan harapan baru. Masyarakat mulai membuka berbagai kran-kran demokrasi, ekonomi, politik, sosial, budaya tanpa adanya kekangan. Hal ini dapat dimaklumi lantaran rezim sebelumnya tidak memberikan kesempatan untuk melakukan ekspresi dan aktualisasi baik dalam politik, ekonomi maupun budaya.

Upaya reformasi disegala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut tentu saja ada sebuah landasan semangat. Nilai nasionalisme dapat kita lihat dari adanya reaksi atas berbagai kekangan dibidang politik, ekonomi, dan budaya. Adanya reaksi tersebut menimbulkan sebuah semangat politik untuk menggantikan dan menghapuskan ’penjajahan’ dan mendirikan bangsa sendiri dengan pemerintahan yang demokratis.

Dampak dari dibukanya kran demokrasi itu adalah terbukanya pasar atau yang lebih dikenal dengan globalisasi. Konsekuensinya akan menimbulkan kapitalisme dan paham ekonomi neo-liberal yang memberikan kebebasan individu dengan campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi.
(more…)

Memoar Kalteng

Memoar Kalimantan TengahSore itu, Senin (4/8) kami masih menyempatkan untuk melintasi jalanan di tengah kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dengan niat menghilangkan pengat dan lelah, kami menelusi hamparan ujung penglihatan ditengah rimbun tanah bergambut. Dengan menggunakan taksi, sebutan untuk angkot, kami pun bergegas untuk kongkow di Jembatan Kahayan.  Ya, sejak 2001 di tengah kota Palangka Raya terbentang jembatan yang melintasi sungai kahayan sepanjang 640 meter dengan lebar jembatan ini 9 meter. Diatasnya memiliki lengkungan yang sangat menarik. Jembatan ini bernama Jembatan Kahayan.

Kemudian tak jauh dari sungai Kahayan, kami singgah di tugu atau monumen peletakan batu pertama kota Palangka Raya. Tugu ini sebagai tiang pertama pembangunan kota Palangka Raya sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah. Tugu ini diresmikan oleh Presiden RI Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957.