Nyepi, Saatnya Mawas Diri
Umat Hindu esok akan merayakan hari raya Nyepi tahun baru saka 1930. Dalam perayaan itu tidak digelar dengan kemeriahan. Sebaliknya pada saat Nyepi itu, umat Hindu melakukan tapa brata untuk melakukan interopeksi diri. Pada hari itu umat Hindu melakukan amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Baru setelah itu umat Hindu melakukan silakrama yang dikenal dengan Dharma Santi.
Keempat brata penyepian itu dilaksanakan sebagai proses mawas diri untuk meningkatkan kualitas kehidupan ini. Umat Hindu akan berbuat untuk terus menjalankan kehidupan dengan mengacu pada perbuatan, perkatan, dan pikiran yang baik. Hal ini juga dikuatkan dengan ajaran karma phala. Dimana setiap tindakan akan memberikan hasil sesuai tindakannya atau hukum sebab akibat.
Saat Nyepi inilah umat melakukan interopeksi untuk melihat proses kehidupan selama satu tahun sebelumnya. Kemudian terus meningkatkan kualitas sradha guna perbaikan kehidupan kedepannya untuk terus berbuat baik.
Dalam kontek kehidupan ini, tentu brata penyepian itu dimaknai secara mendalam. Amati geni atau tidak menyalakan api bukan semata-mata tidak menyalakan api. Namun juga umat harus bisa meredam api amarah yang senantiasa membawa kepada penurunan kualitas spritual. Pemaknaan itu harus dijalankan agar makna Nyepi ini benar-benar kita dapatkan.
Mawas Diri Pada Bangsa
Dengan adanya mawas diri pada setiap umat diharapkan juga adanya mawas diri pada bangsa dan negara Indonesia. Sudah saatnya kita melihat diri sendiri sebagai bangsa dan negara untuk memberikan kesejahteraan kepada warga. Berbagai dinamika kebangsaan mulai dari ekonomi hingga tindak korupsi adalah permasalahan yang mendesak untuk diselesaikan.
Hampir setiap calon pemimpin formal negara ini mewacanakan penyelesaian permasalahan itu. Namun permasalahan tak kunjung selesai dan seolah silih berganti menerpa kehidupan bangsa ini. Nyepi sebagai momen interopeksi tentu bisa dijadikan renungan untuk berkata jujur sejauh mana tindakan kita dalam memimpin maupun sebagai warga negara. Adakah sebuah jawaban jujur pada titik-titik kontemplasi dan doa tersebut?
Mawas diri itu tentu harus diikuti dengan tindakan nyata untuk melakukan perbaikan atas kekurangan yang ada. Jika hal ini tidak dilakukan, sama saja tidak memberikan sebuah nilai untuk kesejahteraan bersama. Tidak ada sebuah perenungan atas semua peristiwa dan tindak lanjut perbaikan yang nyata.
Untuk menciptakan kesejahteraan dan kebaikan di dunia ada beberapa hal yang harus ditegakkan. Dalam ajaran Hindu kebaikan itu ditunjang oleh kebenaran (satyam). Kebenaran itu hendaknya melandasi setiap perbuatan sehingga tercipta kebaikan pada setiap sektor kehidupan. Ini sering tidak diindahkan bahkan cenderung kebenaran dilupakan. Kebenaran sering dikalahkan dengan kepentingan-kepentingan pragmatis demi kelompok-kelompok tertentu.
Kemudian kebaikan harus ditunjang dengan hukum abadi yang tegas (rta). Dengan adanya hukum tersebut tentu akan mengarahkan warga untuk terus membangun kualitas kehidupan. Kemudian dilanjutkan dengan adanya pentahbisan diri (diksa), tapa, sembah, dan yajna atau korban suci. Keenam hal tersebut akan menunjang kebaikan dalam kehidupan ini.
Sebuah kesadaran diri akan kekurangan adalah hal yang penting untuk kita perbaiki. Begitu juga dengan pengendalian diri akan semua keserakahan yang sering menggoda dalam hidup ini. Baik harta maupun kekuasaan. Kesadaran juga dibangun dengan sembah atau bhakti kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ditambah lagi dengan sebuah korban suci sebagai wujud ketulusan kita dalam hidup ini. Semoga kita dapat merenungkan makna Nyepi ini dengan baik untuk perbaikan esok hari…





Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...