Banyak Jalan Menuju Tuhan

Written by  //  22 November, 2007  //  Artikel  //  1 Comment // Visited 160 times, 1 so far today

Hidup dalam masyarakat yang beragama memang memiliki sebuah dinamika tersendiri. Pasalnya didalam keanekaragaman tersebut akan tercipta dua sisi yang berbeda. Disatu sisi dapat menimbulkan hubungan yang positif sehingga terjadi kedamaian. Disisi lain dapat menimbulkan perpecahan ataupun yang ditandai dengan berbagai tindakan yang tidak sehat sehingga menimbulkan perpecahan.

Sejatinya agama untuk memberikan tuntunan kepada umatnya dalam mencapai kebahagian.  Bila hal ini sudah dilakukan harapannya adalah kedamaian. Tidak saja antara umat yang seiman namun bagi seluruh umat manusia. Keharmonisan hubungan dengan alam sekitar, dan keimanan dalam hubungan dengan Tuhan.

Namun harus disadari bahwa hal ini akan menemui kendala ketika terjadi keanekaragaman masyarakat. Apalagi tidak ada rasa toleransi yang baik antara masyarakat tersebut. Padahal hal ini sudah diajarkan dalam karya Mpu Tantular yang menjiwai pluralitas di Indonesia. Pemikiran Tantular ini dituangkan dalam karyanya, Sutasoma yang berbunyi Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, walaupun itu berbeda tetapi hakikatnya satu, tak ada kebenaran yang ganda.

Namun dalam konteks kebangsaan, negara tidak sepenuhnya melakukan jaminan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 seperti yang tercantum dalam Pasal 28 E  dan  Pasal 29. Dimana ditegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tindak penyelesaian dengan kekerasan terhadap kelompok minoritas. Negara tidak mampu menjamin rasa aman dan kebebasan beribadah bagi umat. Misalnya saja perusakan berbagai tempat ibadah hingga penyerangan kepada kelompok tertentu dengan tindak kekerasan. Dalam hal ini juga dapat dilihat bahwa pemerintah dalam hal ini aparat keamanan tidak bertindak tegas. Aparat keamanan berfungsi untuk melindungi warga negara secara profesional tetapi yang terjadi malah membiarkan kekerasan ini.

Terkait dengan kehidupan berbangsa ini, tentu manusia yang tinggal di  geografis tertentu tidak dapat disebut bangsa tetapi hanya merupakan sekelompok manusia. Apabila kelompok semacam itu hidup bersama dalam kerukunan dan berupaya untuk mencapai suatu tujuan yang sama, barulah ia dapat disebut bangsa (Svami Chinmayananda). Tentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara keberagaman agama dan budaya harus disinergikan untuk mencapai kesejahteraan bangsa dan negara.

Dalam ajaran Hindu disampaikan bahwa banyak jalan yang dapat dilakukan dalam peribadatan umat Hindu. Hal ini tergantung dari individu apakah dia menempuh jalan ilmu pengetahuan (jnana marga), dimana dia menggunakan ilmu maupun filsafat agama untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Kemudian apakah umat menggunakan jalan kerja (karma marga), dimana dia melakukan kerja tanpa pamrih dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Ada juga dengan cara bhakti (bhakti marga), dimana umat melakukan bhakti yang dilandasi ketulusan dan cinta kasih untuk melakukan sembah sujud kepada Tuhan. Dan yang terakhir dengan jalan tapa atau disiplin (raja marga). Jalan ini menekankan pada konsentrasi untuk pengendalian diri atau yoga.

Hal ini ditegaskan di dalam Bhagavad Gita IV.11 yang menyatakan Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta. Pilihan ini disesuaikan dengan kemampuan dari individu dan jalan itu sama saja. Dalam arti tidak ada yang memiliki nilai lebih atau rendah. Semuanya ditentukan dari kualitas individu untuk berserah diri kepada Tuhan.
Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru