Marketing Politik

Written by  //  24 October, 2007  //  Catatan Lepas  //  3 Comments // Visited 340 times, 2 so far today

Menjelang pemilihan kepala daerah atau pilkada, ada saja ide dari para calon gubernur atau bupati. Di Lampung misalnya, menjelang pemilihan gubernur dan bupati di beberapa kabupaten banyak iklan pilkada.

Pemilihan kepala daerah langsung ini membawa dampak pada pencitraan. Konsekuensinya, iklan-iklan yang menampilkan wajah calon pun menghiasi jalanan. Iklan tersebut memang terselubung yang tujuan untuk mengenalkan wajah dirinya. Ada yang hanya stiker hingga spanduk. Yang lebih beruntung lagi, calon yang masih menjabat sebagai pejabat daerah.

Ada saja bentuk-bentuk iklan yang dibuat. Seperti narkoba hingga kepencapaian pembangunan. Bahkan momen-momen tertentu pun tak dilewatkan. Idul Fitri kemarin misalnya, banyak pejabat yang menyampaikan ucapan selamat atas nama jabatannya. Tentu rasanya timpang karena sering tidak menonjolkan lembaganya tapi malah pribadi berikut fotonya. Tapi harus juga diakui bahwa itu sah-sah saja.

Akibatnya, sering pejabat yang akan ikut bertarung dipilkada tidak lagi fokus pada tugasnya. Melainkan fokus pada strategi untuk menang dalam pilkada. Mulai dari pencitraan hingga mencari partai untuk mengusungnya. Walaupun sudah ada gong untuk calon perseorangan tapi hal ini belum bisa berlaku sekarang.

Dampak yang dirasakan juga adanya kampanye pemilu bukan kampanye politik. Kampanye pemilu dilakukan secara instan. Ketika akan mencalonkan diri barulah menggelar berbagai ‘even’.

Sedangkan kampanye politik lebih menekankan proses edukasi politik. Dilakukan terus menerus dalam jangka yang panjang. Dampaknya masyarakat memang telah memiliki rasa empati kepada calon tersebut atas kiprahnya. Beginilah seharusnya kampanye dilakukan.

Ya, lantas siapa pemimpin yang sudah melakukannya? Tak salah pula bahwa bekerja adalah kampanye terbaik…@