Lebaran
Sudah menjadi tradisi kalau saat Idul Fitri budaya mudik menjadi tren. Perayaan kemenangan dirayakan dengan sukacita bersama sanak saudara di kampung halaman. Tak itu saja, hari raya umat Islam ini juga membawa imbas kepada umat non muslim. Kesempatan mudik juga dirasakan oleh umat lainnya.
Tak itu saja, perekonomian juga mengalami dampak yang luar biasa. Apalagi dibidang transportasi. Perputaran ekonomi pun mengalami percepatan akibat perayaan yang sering disebut lebaran ini. Terlepas dari itu, ada suatu budaya yang tumbuh untuk tetap memelihara silaturahmi. Budaya yang sangat tradisional ditengah globalisasi yang ditunjukan dengan kemajuan teknologi informasi.
Ada suatu sukacita yang ditemukan, bertemu orang tua, keluarga, maupun temen lama. Ada kebanggaan yang dirasakan dalam interaksi itu. Disamping sisi religius spritual, lebaran memberikan dampak bagi interaksi sosial.
***
Akhirnya suasana lebaran memang harus dipisahkan oleh sang waktu. Arus balik pun mulai mewarnai berita-berita dimedia. Orang pun mulai menuju ke kota untuk kembali melawan keras dan manisnya kehidupan. Budaya-budaya tradisional yang masih mekar di desa kini harus menjelma menjadi apatisme bersama ramainya kota. Tidak itu saja, budaya tersebut harus bertempur ditengah budaya hedonis. Ya, semua terbuka untuk terjadi benturan. Benturan antara tradisional dan globalisasi kapitalis. Ya masih terbuka lebar selebar lebaran itu…@





Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...