Presiden
Waktu pemilihan presiden kurang lebih 2 tahun lagi. Namun waktu tersebut sudah diperhitungkan dengan tepat oleh para kandidat presiden. Rame-rame ngomong mau nyalon jadi presiden. Ya, kini orang sudah mulai mencuri start untuk mempersiapkan diri jadi presiden. Sebut saja Sutiyoso, yang beberapa hari lagi akan menyerahkan tapuk kepimpinan sebagai gubernur DKI Jakarta. Bang Yos, panggilan akrabnya sudah mulai mengumumkan dirinya untuk jadi calon presiden pada 2009 nanti.
Tak hanya itu, tokoh-tokoh nasional lainnya pun dibuat latah ngomongin presiden ini. Seolah tak mau ketinggalan, semuanya mulai lirik sana sini. Apalagi pimpinan PDIP, Megawati Soekarno Putri, beberapa minggu lalu juga sudah menyatakan siap maju lagi menjadi presiden. Lain lagi dengan Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN, ia sibuk menggalang kedekatan dari satu partai ke partai lainnya. Selain itu ia pun mendorong Sultan Hamengku Bowono X, Gubernur DI Yogyakarta untuk maju jadi presiden pada 2009 nanti. Dan tentu yang tokoh-tokoh lainnya juga sudah mulai pasang ancang-ancang termasuk SBY dan JK yang saat ini jadi presiden dan wakil presiden.
Selain tokoh-tokoh, masyarakat calon pemilih pun sudah mulai latah. Dalam suatu kesempatan ada perbincangan yang saya dengarkan. ”Siapa calon presiden pilihanmu, pakde,” tanya tukang ojek sembari meneguk kopi. ”Ach itu kan urusan mereka yang ikutan politik. Kita kan masyarakat kecil yang gak ikut-ikutan,” jawab pakdenya cuwek. ”Bukan gitu pakde, tapi ini menyangkut hajat hidup kita bersama dalam berbangsa dan bernegara,” pungkas tukang ojek itu semangat.
Dari perbincangan itu, ada sebuah kelatahan untuk membicarakan euforia presiden ini. Namun disisi lain ada sebuah sikap apatis. Sikap-sikap ini menggejala lantaran menyangkut kehidupan bangsa ini dalam lima tahun kedepannya. Artinya ada sebuah harapan yang diinginkan dari presiden pada 2009 nanti. Ada suatu harapan adanya perbaikan yang diinginkan oleh masyarakat kecil sekalipun kepada pemimpin bangsa dan negaranya.
Namun disini lain, harapan itu seolah kandas oleh ke-cuek-an masyakat lainnya. Mungkin saja hal ini terjadi karena tidak dirasakannya pengaruh kepada mereka. Artinya siapa pun presidennya, tidak ada suatu perbaikan yang dia rasakan. Tidak ada suatu jaminan adanya perubahan seperti yang dijanjikan pada teks-teks normatif. Bahkan kemungkinan justru membawa kesusahan bagi hidupnya lantaran kebijakan yang dikeluarkan tidak pro kepada mereka yang selalu tertindas.
Ya, waktu dua tahun memang relatif singkat bagi sang calon presiden. Pantas saja kalau dari sekarang mereka sudah meng-kampanyekan dirinya. Tapi yang jelas pemahaman masyarakat juga sudah mulai terbuka. Baiknya juga dilakukan marketing politik bukan kampanye politik sebagaimana ditulis Firmanzah dalam bukunya Marketing Poliitk, antara pemahaman dan realitas.
Saatnya kita mengikuti proses ini…bersambung





Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...