Berlintas di Kukar
Suasana alam dengan bentangan daerah aliran sungai Mahakam benar-benar dapat dirasakan secara nyata. Begitu juga dengan hiruk pikuk warga yang menandakan bahwa daerah ini memiliki potensi kekayaan alam yang melimbah. Kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan taksi dari Balikpapan, terlintaslah kita menelusuri jalanan dipinggir sungai Mahakam. Memasuki pinggiran kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, bertambah tertegun dengan suasana kekayaan alam batubara yang diusung truk-truk maupun kapal yang melalui sungai Mahakam.
Hari semakin sore dengan suasana yang masih cerah memberikan kesan keindahan ikon kabupaten di Kalimantan Timur ini. Sebuah jembatan dengan panjang 712 meter membentang menghubungkan Tenggarong dengan Samarinda. Selain itu, keindahan kota ditambah dengan adanya pulau Kumala yang berada di tengah sungai Mahakam atau tepatnya berada disekitar kantor DPRD Kukar. Dipinggiran sungai itu juga dibangun trotoar dan tembok yang sepertinya memang diperuntukan untuk menghabiskan sore. Ataupun sekedar tempat duduk-duduk di sore hari sembari memandang lalu lalang di kendaraan yang melintasi jembatan.
Selain itu, daerah ini mengingatkan pada kerajaan Hindu pertama di Indonesia. Ya, Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu di Nusantara yang terletak di Muara Kaman atau tepatnya di hulu sungai Mahakam. Seperti informasi dari Yupa yang berasal dari abad ke-4, diketahui bahwa raja Kutai saat itu adalah Mulawarman.
Tak heran, ketika suasana Hindu masih melekat di daerah itu. Seperti maskot daerah yaitu Lembu Swana. Ketika maskot ini juga digunakan untuk kejurnas karate 2003, Sugiyanto, sang desainer pun menjelaskan filosofinya. Lembu Swana merupakan seekor binatang keramat dalam mitologi Kutai Kartanegara. Ia bermahkota namun bukan raja, berbelalai namun bukan gajah, memiliki sepasang sayap namun ia bukanlah seekor burung. Menurut legenda Kutai, Lembu Swana adalah makhluk yang menghantarkan bayi bernama Puteri Karang Melenu, yang kemudian menjadi permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.





Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...
September 25th, 2008 at 7:49 am
good site rquwyo