Menyambut HUT KMHDI (2)
Mengapa pergerakan organisasi ini stagnan?” tanya seorang sahabat. Dan mungkin pertanyaan-pertanyaan serupa akan muncul dihati kita sebagai kader organisasi ini. Bilamana hal ini memang benar terjadi, lalu apa yang harus kita perbuat? Dan bilamana hal ini nyaris terjadi, apakah kita sudah sadar? Kembali, apa yang kita perbuat? Apakah sudah terpikirkan dibenak sanubari ini?
Dalam ketetapan hati, kita tidak ingin berhenti atau pun diam diri. Berbagai pergulatan yang berbau intelektual masih tertuangkan dalam derap langkah kaderisasi. Semuanya hanya timbul dari prinsip dan ideologi organisasi. Tidak mungkin kita melampaui jalan panjang dari organisasi. Apalagi lupa dan tidak tahu kemana jalan itu.
Pergerakan yang telah melampaui satu dekade ini memang memberi warna romantisme tersendiri. Mungkin ini yang menggugah pertanyaan dari sahabat tadi. Dimana, dulu heroik pergerakan memang dirasakan apalagi tahun 98. Sang aktivis kala itu memang menjadi barometer dan sorotan dari perubahan rezim. Namun sekarang, warna politik telah berubah tentu dibarengi dengan perubahan strategi pergerakan.
Jadi mari jadikan romantisme sebagai pembangkit semangat gerakan bukan pembanding.![]()






Wayan Sudane lahir dan besar di Lampung. Nge-blog untuk memaknai kehidupan yang tak pernah sepi sehingga kita tak hanya bisa mimpi apa lagi untuk diam diri. Ya, merangkai kata mencari makna...
August 27th, 2007 at 8:20 am
mungkin spirit gerakan itu harus diubah. tdk lagi berhadap2an dg kekuasaan tp pada kenyataan di sekitar kita: primordialisme, fundamentalisme, kemiskinan, dst.
jd kita tdk perlu terus menerus mengenang gerakan 98 secara romantis.
salam.