wayan sudane

merangkai kata mencari makna

Archive for August, 2007


HUT KMHDI ke-14: Reorientasi Gerakan KMHDI

Sebagai organisasi skala nasional yang menginjak usia 14 tahun, KMHDI harus diakui sebagai organisasi yang memiliki basis akar rumput kuat. Mengapa demikian? Karena dengan usia yang lebih dari satu dekade tersebut KMHDI turut serta dalam proses dialektikal kebangsaan maupun keumatan. Ini dibuktikan dengan berbagai agenda nasional yang dilakukannya.

Begitu juga dengan agenda-agenda yang dilakukan Pimpinan Daerah maupun Pimpinan Cabang. Dengan tingkatan organisasi yang tersebar di daerah, tentu efektifitas gerakan menjadi prioritas utama. Dengan tingkatan organisasi tersebut, KMHDI berusaha untuk melakukan proses pendidikan melalui sistem kaderisasi yang sistematis untuk meningkatkan kualitas mahasiswa Hindu.

Sejak dideklarasikan 03 September 1993, KMHDI berketetapan hati untuk mengusung nilai-nilai nasionalistik dan independen. Untuk itu semangat yang dikembangkan pun religiusitas, nasionalis, humanis, dan pemikiran progresif. Keempat semangat tersebut tentu menjiwai jati diri setiap kader-kader KMHDI tanpa memilah dan memilihnya karena memiliki substansi yang sama dalam diri sang kader.

(more…)

Menyambut HUT KMHDI (2)

Mengapa pergerakan organisasi ini stagnan?” tanya seorang sahabat. Dan mungkin pertanyaan-pertanyaan serupa akan muncul dihati kita sebagai kader organisasi ini. Bilamana hal ini memang benar terjadi, lalu apa yang harus kita perbuat? Dan bilamana hal ini nyaris terjadi, apakah kita sudah sadar? Kembali, apa yang kita perbuat? Apakah sudah terpikirkan dibenak sanubari ini?

Dalam ketetapan hati, kita tidak ingin berhenti atau pun diam diri. Berbagai pergulatan yang berbau intelektual masih tertuangkan dalam derap langkah kaderisasi. Semuanya hanya timbul dari prinsip dan ideologi organisasi. Tidak mungkin kita melampaui jalan panjang dari organisasi. Apalagi lupa dan tidak tahu kemana jalan itu.

Pergerakan yang telah melampaui satu dekade ini memang memberi warna romantisme tersendiri. Mungkin ini yang menggugah pertanyaan dari sahabat tadi. Dimana, dulu heroik pergerakan memang dirasakan apalagi tahun 98. Sang aktivis kala itu memang menjadi barometer dan sorotan dari perubahan rezim. Namun sekarang, warna politik telah berubah tentu dibarengi dengan perubahan strategi pergerakan.
Jadi mari jadikan romantisme sebagai pembangkit semangat gerakan bukan pembanding.
hee hee

Menyambut HUT KMHDI (1)

kmhdi.jpgDitengah proses kaderisasi yang dilakukan KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) banyak juga dinamika yang dilakukan. Baik oleh si organisasi itu sendiri maupun oleh sang kader-kadernya. KMHDI pada 3 September nanti akan berusia 14 tahun. Usia untuk menapak kedewasaan. Lalu sudahkah banyak berkiprah dalam tataran kebangsaan maupun agama? Inilah yang harus direfleksikan pada momentum-momentum menjelang peringatan kelahiran organisasi ini.

Apa yang sudah dilakukan memang banyak. Namun harus disadari bahwa KMHDI adalah organisasi kader yang berkeinginan meningkatkan kualitas anggotanya. Baik pemikiran maupun kedewasaannya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam konteks kebangsaan, tidak diragukan lagi kiprahnya bersama organisasi mahasiswa lainnya. Walaupun masih sering tertinggal dengan kendala-kendala teknis lainnya. Begitu juga dalam keagamaan maupun bersama organisasi Hindu lainnya.

Kader-kadernya pun telah mewarnai proses dinamika kemasyarakatan. Memang yang memilih jalur perjuangan di politik relatif sedikit. Dan yang memilih perjuangan politik ini masih relatif dilakukan di Bali. Sedangkan dikancah nasional masih sedikit bahkan bisa dikatakan tidak ada. Apakah tidak siap? Bukan itu permasalahannya, tapi ini proses yang akan mengantarkannya kesana. Banyak juga kader-kader organisasi yang dideklarasikan 3 Septermber 1993 ini memilih jalur pendidikan, bisnis, dan profesional lainnya. Dan ini saling melengkapi satu sama lainnya.:)

Gerakan Perlu Pengawalan

Suatu sore, Dana sempat berbincang-bincang dengan rekan-rekan digerakan. Sebut saja Budi namanya, aktivis dari gerakan mahasiswa yang ber-entitas gerakan keagamaan. Ia melontarkan bahwa gerakan kita saat ini yang notabene masih dalam gerakan kemahasiswa hanya berwacana pada tataran pemikiran. “Ya, memang ini benar, gerakan kemahasiswa masih banyak memiliki keterbatasan,” sahut Dana. “Namun begitu, gerakan moral yang dilakukan mampu untuk memberikan warna dalam perpolitikan negeri ini,” tambahnya. Kalau kita lihat sejarah perpolitikan negeri ini, memang tidak lepas dari peran heroik para mahasiswa dari berbagai elemen atau organisasinya. “Benar, tapi kita masih memiliki kelemahan pada tataran praktiknya,” jawab Budi. “Kita masih pada tarap pemikiran dan moral, kita menghembuskan isu, dan setelah itu jarang kita melakukan pengawalan dari isu tersebut.” tegas Budi. Hal ini sering menimbulkan bias dari gerakan yang dilakukan, lantaran tidak adanya gerakan konkret. “Ini lantaran kita sekarang tidak menemukan musuh bersama dalam melakukan gerakan itu,” ungkap Dana. “Ya, selama ini kita masih bergerak sendiri-sendiri bahkan untuk internal organisasi, lebih ke kaderisasi internal dan sebagainya,” tambahnya…ya, kita memang perlu pengawalan dari gagasan yang kita sampaikan…sehingga tidak hanya wacana manis belaka…dan tidak hanya mimpi saja…Gerakan untuk mewujudkan good governance…:)