RUU Pornografi, Keinginan Tak Tahu Diri
Minggu-minggu ini, rancangan undang-undang pornografi (RUU Pornografi) kembali ramai dibicarakan berbagai kalangan. Menariknya, berbagai kalangan menyoroti berbagai pasal yang dinilai diskriminatif dan cenderung mengancam keutuhan budaya dan keanekaragaman di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan didalam RUU Pornografi tersebut antara lain; Pasal 21 yang menyatakan Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. Ini artinya masyarakat dapat berperan aktif untuk turut melakukan pencegahan bahkan penggeledahan terhadap pihak lainnya dan kemungkinan bisa melampaui wewenang kepolisian. Wah bisa-bisa semua orang melakukan swiping dan kekerasan terhadap warga lainnya dengan dalih pornografi.
Selanjutnya RUU tersebut tidak mencerminkan keanekaragaman budaya bangsa dan ekspresi seni budaya. Indonesia dikenal dengan keanekaragaman budaya antara daerah dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak bisa disamakan satu daerah dengan daerah lainnya. Nah, dalam RUU tersebut, keanekaragaman budaya tersebut akan terancam. Pelaksanaannya tentu akan mengancam keutuhan bangsa dan negara karena pasti akan ada kelompok tertentu yang akan memaksakan kehendak dengan dengan dalih menjalankan amanat undang-undang yang jelas-jelas mencederai kebhinekaan warga negara.
Kalau tetap dipaksakan pengesehannya pada 23 September mendatang, tentu ini menjadi kemunduran dalam proses berbangsa dan bernegara dan tentunya tidak ada lagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ya, keinginan tak tahu diri…
Melihat Kampanye Online Pilkada Lampung
Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung kini memberikan warna tersendiri bagi proses demokrasi di Indonesia. Warna itu bisa dilihat dari semakin maraknya calon kandidat yang memperhatikan warga masyarakat. Mulai dari semboyan hingga janji-janji pro kepada warga terus dilontarkan. Begitu juga program-program pro warga tidak ketinggalan membumbui kampanye agar warga simpatik dan kemudian memilihnya.
Semua kalangan warga tak luput dari garapan para tim sukses. Mulai yang di kampung hingga perkotaan, tim sukses pemenangan calon memiliki cara tersendiri. Namun yang biasa dilakukan berupa pemasangan spanduk-spanduk yang berisi foto sang calon dan stiker calon. Tak kalah menariknya adalah akronim dari nama-nama kedua pasangan, misalnya gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati. Ada saja akronim-akronim yang dijual dengan maksud menanamkan ingatan dibenak konsumen yang akan memilih mereka.
Yang menarik akhir-akhir ini dan merupakan kemajuan adalah digarapnya juga sisi dunia maya. Pemanfaatan fasilitas internet sebagai media kampanye online digarap secara serius tak kalah dengan kampanye offline berupa spanduk-spanduk hingga sosialisasi langsung. Melalui media online ini, sang calon menawarkan program-program hingga pemaparan kegiatan-kegiatan kampanye yang tentu saja sangat mudah dipahami oleh target pasar yang notabene kalangan berpendidikan.
Read More »
Selamat Galungan - ‘Memerdekakan Dharma’

Galungan kali ini cukup penting untuk dihayati. Hari kemenangan dharma melawan adharma ini hamper bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus lalu. Masih dengan semangat kemerdekaan yang heroik, kita juga merayakan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) hari ini (20/8). Begitulah kira-kira semangat yang ada pada perayaan hari raya Galungan ini.
Revitalisasi Nasionalisme Anak Bangsa
Sejak reformasi tahun 1998, kondisi bangsa dan negara Indonesia memberikan harapan baru. Masyarakat mulai membuka berbagai kran-kran demokrasi, ekonomi, politik, sosial, budaya tanpa adanya kekangan. Hal ini dapat dimaklumi lantaran rezim sebelumnya tidak memberikan kesempatan untuk melakukan ekspresi dan aktualisasi baik dalam politik, ekonomi maupun budaya.
Upaya reformasi disegala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut tentu saja ada sebuah landasan semangat. Nilai nasionalisme dapat kita lihat dari adanya reaksi atas berbagai kekangan dibidang politik, ekonomi, dan budaya. Adanya reaksi tersebut menimbulkan sebuah semangat politik untuk menggantikan dan menghapuskan ’penjajahan’ dan mendirikan bangsa sendiri dengan pemerintahan yang demokratis.
Dampak dari dibukanya kran demokrasi itu adalah terbukanya pasar atau yang lebih dikenal dengan globalisasi. Konsekuensinya akan menimbulkan kapitalisme dan paham ekonomi neo-liberal yang memberikan kebebasan individu dengan campur tangan sesedikit mungkin dari pemerintah dalam kehidupan ekonomi.
Read More »


